• Home
  • Content
    • #Jikalau
    • Tugas Kuliah
      • UAS Jurnalistik
      • UTS Teknik Publikasi
    • Politik
      • Pemilu 2019
    • Internship Stories
    • Korean Zone
      • K-Pop Review
      • K-Drama Review
  • Travel
    • KKN di Desa Pabangbon
  • Find Me
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • Email
  • Ask Me!
  • Owner
fadlytheworld


Sejauh ini, banyak masyarakat yang hanya berfokus pada tokoh utama dalam pemilu, yaitu menentukan sosok Presiden dan Wakil Presiden RI 5 tahun kedepan. Saling menghina antar cebong dan kampret dengan berbagai bentuk dan berbagai cara untuk membenarkan junjungannya.

Tapi, mereka lupa (termasuk saya) bahwa selain menentukan pemimpin bangsa, kita juga harus menentukan orang-orang yang akan mewakili kita sebagai rakyat di kursi pemerintahan nanti. Orang-orang ini juga yang akan menentukan akan seperti apa nasib rakyatnya melalui kebijakan-kebijakan yang akan mereka sampaikan dalam forum/musyawarah. Maka dari itu, memilih caleg pun juga suatu hal yang penting untuk kita.

Hal yang sangat disayangkan yaitu masyarakat masih ada (sebagian) yang apatis atau kurang peduli untuk memilih caleg. Mungkin ada beberapa faktor penyebabnya (just my opinion), diantaranya:

Jumlah calon anggota legislatif yang terlalu banyak
Banyak nama-nama yang mencalonkan diri menjadi bagian dari anggota legislatif. Secara kesuluruhan, berdasarkan data yang saya temukan di jariungu.com , ada sekitar 250 ribu lebih calon legislatif yang tersebar di seluruh Indonesia pada pemilu 2019 ini.

Untuk regional saya yaitu di Kota Depok, jumlah caleg yang tersedia:
  1. Caleg DPR RI Dapil Jawa Barat 6 (Depok & Bekasi), terdapat 92 orang
  2. Caleg DPD RI Prov. Jawa Barat, terdapat 50 orang
  3. Caleg DPRD Jawa Barat Dapil 8 (Depok & Bekasi), terdapat 156 orang, dan
  4. Caleg DPRD Kota Depok Dapil 2 (Cilodong & Tapos), terdapat 142 orang

Sumber: jariungu.com

Dari segini banyaknya manusia, sangat sulit untuk mencari tau semua latar belakangnya satu persatu.

Minimnya informasi caleg
Kita perlu mengetahui info masing-masing caleg untuk memastikan apa yang kita pilih itu yang terbaik. Tapi dimana kita bisa mendapatkan info tersebut? Biasanya ada berbagai cara, diantaranya melalui baliho/spanduk, iklan, atau caleg itu sendiri yang bersosialisasi langsung kepada kita secara door to door untuk mempromosikan dirinya, atau kita yang searching tentang caleg tersebut.

Ada beberapa situs yang memfasilitasi informasi tentang semua caleg, misalnya:
  1. Situs KPU (https://infopemilu.kpu.go.id/), 
  2. Pintar Memilih (https://pintarmemilih.id/),
  3. CalegPedia (https://calegpedia.id/), dan
  4. Jari Ungu (https://jariungu.com/)

Walaupun situs-situs tersebut mencakup semua data caleg, masih ada kekurangan dimana banyak yang tidak ada informasi yang mendukung untuk mencari latar belakangnya. Hal itu juga dikarenakan caleg itu sendiri yang tidak memberikan datanya, entah gak tau ada situs kayak gini atau gimana, idk.

Malesnya mengakses informasi caleg
Karena melihat banyaknya jumlah calon dan minimnya informasi, dampaknya masyarakat merasa hilang ketertarikan untuk mencari tau dan mengakses info para caleg.

***


Saya berpendapat seperti ini karena inilah yang saya rasakan ketika mencari Informasi caleg tersebut. Berdasarkan pengalaman saya, kemarin sore saya iseng buka website Jari Ungu di Komputer yang ada di Perpustakaan Utama UIN Jakarta untuk mencari tau para caleg, dengan harapan bisa menemukan siapa kandidat caleg yang berpotensi untuk saya pilih.



Setelah saya cek, masyaallah bikin pusing mata karena ngeliat banyaknya caleg. Hanya sekitar 30-40 menit untuk sanggup mengakses website tersebut, dan masih banyak yang terlewatkan.

Kalau begini caranya, pasti nanti lebih banyak masyarakat yang hanya akan memilih partainya dibanding calegnya. Sisanya adalah orang-orang yang yakin dengan salah satu caleg, yang kenal dengan caleg, yang punya ikatan kekerabatan sama si caleg, dan yang milih random. Ketika banyak yang hanya memilih partai, dikhawatirkan apabila nama partai yang mendasari masyarakat memilih caleg, nantinya anggota-anggota legislatif yang menjabat hanya karena berada di kubu partai itu saja dan bukan karena kredibilitas anggota itu sendiri.

Beberapa artis yang turun di caleg Dapil Jawa Barat VI. Berkualitaskah?

Untuk mendulang suara partai, maka banyak alat yang digunakan masing-masing partai agar bisa memenagkan kursi pemerintahan, salah satu yang bisa jadi vote getter adalah tokoh public figure yang biasa kita liat di TV atau media lainnya. Artis-artis seperti ini dipercaya menjadi alat memperoleh suara rakyat, karena masyarakat kita ini selalu dekat dengan TV dan menyaksikan caleg dari barisan artis tersebut, jadi merasa kenal dan perlu didukung, terlepas dari kualitasnya sebagai politikus yang wallahu a'lam.

Bahaya banget kalau nih orang kepilih, nanti banyak dramanya wkwkwk

Setelah masa kampanye berlalu, saya merasa bahwa berkampanye melalui baliho, banner, atau iklan itu bisa berpengaruh untuk kita. Semakin banyak atribut yang tersebar, semakin bikin kita terngiang-ngiang di kepala. Jadi inget kalau saya selalu diteror oleh baliho raksasanya Davin Kirana, iklan cringe-nya PSI, poster Lucky Hakim di setiap tiang listrik, banner Farabi el Fouz yang ganteng, dan banyak nama-nama lainnya yang tersebar selama kampanye. Ini bisa mempersempit pilihan kita untuk lebih menyaring caleg-caleg.

__________

Terimakasih sudah membaca, tolong maklumi kalau banyak yang masih kurang antusias sama pilegnya, tolong maklumi juga kalau tulisan saya masih banyak kekurangannya, semoga bisa bermanfaat 😇


Wrote by Fadhlillah Hidayat

Baru-baru ini lagi viral video ekslusif Ustadz Abdul Somad yang ngobrol bersama salah satu capres, Prabowo Subianto. Apa isi percakapannya? Kalau dilihat dari inti percakapannya, mungkin bisa dibilang bahwa itu adalah sebuah 'deklarasi' dukungan terhadap paslon nomor 2.


UAS menceritakan kisah pribadinya yang selama berdakwah di berbagai tempat, jama'ahnya selalu mengumandangkan hal-hal yang mengarah kepada Prabowo-Sandi. Ditambah lagi, UAS mendapat cerita dari beberapa ustadz lokal (gak masyhur/terkenal) bahwa Prabowo ada di dalam mimpinya. Bukan sekali-dua kali, namun lima kali. Selengkapnya bisa di cek videonya yaa..



Setelah video itu tersebar luas, bagaimana dampaknya? Kita semua tau bahwa UAS adalah salah satu tokoh ustadz yang sangat terkenal di Indonesia, dan memiliki pengaruh yang besar. Dengan adanya ungkapan dari UAS mengenai politik ini, bukan hal yang tidak mungkin jama'ahnya akan mengikuti jejak UAS untuk memilih Prabowo, juga bukan hal yang tidak mungkin untuk meninggalkan UAS karena berbeda pilihan. Mungkin kalau di klasifikasikan akan terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Mengikuti jejak UAS dalam memilih
Sudah sewajarnya jika jama'ah mentaati dan mengikuti arahan dari sang guru/ustadz, karena seorang guru pasti selalu berusaha menyampaikan segala hal yang baik. Selain itu, para jama'ah yakin bahwa menuruti apa yang diyakini oleh gurunya akan memberikan berkah dan manfaat terhadap dirinya. Hal ini bisa berdampak besar kepada masyarakat yang masih belum menentukan pilihannya (swing voter), juga mempengaruhi seseorang yang sebelumnya mendukung lawan.

2. Meninggalkan UAS karena dianggap tidak netral lagi
Dengan masuknya UAS ke dalam ranah politik (walau hanya sekedar berbicara dengan Prabowo ini), sebagian jama'ah juga pasti ada yang merasa kecewa karena kapasitas UAS sebagai da'i (pendakwah) sudah tidak netral lagi. Mereka yang kecewa tersebut berpikirnya bahwa cukuplah UAS fokus untuk berdakwah ke semua umat di Indonesia, jangan dicampur adukkan dengan politik. Karena sejauh ini, isi dakwah beliau hampir tidak pernah menyentuh isu politik (khususnya pemilu di Indonesia) dan hanya membahas perkara-perkara Islam saja. Maka, ada juga yang akhirnya meninggalkan UAS dan (mungkin) mencari ustadz lain yang lebih cocok untuknya.

3. Tetap bersama UAS apapun pilihannya
Ada juga jama'ah yang tetap bersama UAS walaupun ia dan gurunya berbeda pilihan. Karena mereka merasa bahwa dalam memilih itu adalah hak setiap orang dan bukan menjadi alasan untuk meninggalkan UAS. Jama'ah yang seperti ini mungkin lebih mengharapkan ilmu yang diberikan oleh UAS.

Dokumentasi ketika saya hadir bertemu dengan Ustadz Abdul Somad

Mungkin ada keempat, kelima, dan seterusnya. Itu silahkan kalian beropini, sekiranya ada jenis yang lainnya, itu memberi cara pandang yang berbeda dan saling melengkapi. Karena tiga jenis yang saya tulis ini hanya berdasarkan pengamatan saya yang saya temukan dari berbagai platform media sosial, entah itu komentar di youtube, facebook, maupun instagram.

Apa alasan UAS mengungkapkan dukungannya tersebut? Berdasarkan video ekslusif tersebut, sudah menjelaskan bahwa ia yang awalnya merasa ragu, setelah melihat keadaan umat dan mendengar cerita ustadz lainnya, akhirnya UAS merasa yakin seperti yang saya tulis diatas. Setelah itu, UAS juga berpesan kepada presiden terpilih nanti (melalui Prabowo) supaya tidak mengundang beliau ke istana, dan beliau tidak mau diberi jabatan. Ini hal yang cukup menarik, karena beliau gak mau apa yang selama ini orang-orang mau. Ada yang menjelaskan seperti ini:

Sumber: Internet (dimana-mana ada, tak ada sumber yang spesifik)

Saya kurang memahami tafsir tersebut, tapi setelah mendapat penjelasan ini, saya merasa bahwa pesan yang disampaikan oleh UAS ini sangat bermakna. Karena memang sudah sewajarnya Ulama itu didatangi, bukan mendatangi. Ulama bukan ditempatkan sebagai bawahan (yang disimbolkan dengan jabatan), karena Ulama-lah yang akan menjadi salah satu penasihat untuk kebaikan negeri.

Selain itu semua, kalau kita lihat dari sisi psikologisnya, menurut saya (dan mungkin sebagian orang) UAS merasa harus memberikan harapannya kepada Prabowo atas apa yang ia rasakan selama berdakwah. Karena yang kita tau, gak semua aktivitas safari dakwah yang dilakukan oleh UAS itu berjalan mulus, terkadang beliau juga sering mendapat rintangan dan penolakan. Contohnya ketika ingin berdakwah di Bali, beliau ditolak oleh oknum warga setempat karena dianggap anti Pancasila, setiap ingin berdakwah diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk bisa menjamin bahwa UAS ini memang nasionalis. Padahal nyatanya sosok UAS ini memang taat kepada ideologi Pancasila bahkan tanpa harus diminta ini itu yang meribetkan. Tidak hanya di Bali saja, beliau juga terkadang mendapat penolakan di berbagai tempat.

Dari kejadian-kejadian tersebut, UAS merasa heran terhadap pemerintah karena tidak melakukan apa-apa dan terkesan membiarkan begitu saja, padahal dengan kejadian tersebut sebenarnya membuat perpecahan antar bangsa. Bahkan di keadaan tersebut, malah jadi terpecah, "Kami Indonesia, Kami Pancasila. Umat Islam anti Pancasila!". Padahal seharusnya pemerintah bisa meredamkan keadaan seperti ini untuk menyatukan bangsa yang bersaudara setanah air.

UAS akhirnya menaruh harapan kepada Prabowo supaya beliau dan aktivis dakwah lainnya bisa menjalankan tugasnya untuk berdakwah dengan aman, tenang, dan tentram, membuat Indonesia bersatu kembali. Tapi, siapapun nanti yang akan terpilih, saya berharap supaya bisa menjalankan amanah UAS ini dengan baik, juga amanah terhadap rakyat Indonesia tentunya. Terimakasih 🙏


Wrote by Fadhlillah Hidayat
Alhamdulillah saya diundang untuk menjadi moderator debat capres pertama ini, WKWKWK


Disclaimer:
Hasil review ini merupakan salah satu tugas kuliah saya pada matkul Komunikasi Politik yang diampu oleh Pak Gun Gun Heryanto, M.Si. Saya pikir, daripada tulisan itu hanya menjadi sekedar tugas saja, rasanya masih kurang bermanfaat karena sudah pasti beliau sebagai dosen tau isi dari tugas tersebut, sedangkan yang membutuhkan informasi ini adalah khalayak umum. Maka dari itu, saya berkeinginan untuk mempublikasikan tugas saya melalui blog ini, semoga bisa menjadi manfaat. Aamiin yaa Allah

Oh iya, review yang saya buat ini berdasarkan hasil review dosen saya sendiri, yaitu Pak Gun Gun yang dimuat dalam beberapa portal berita (Republika dan Media Indonesia). Jadi ini adalah ngereview hasil review yang di review oleh beliau 😅

Untuk melihat hasil review aslinya, temen-temen bisa cek link dibawah ini:

  1. Debat Pertama: Evaluasi Debat Capres Perdana
  2. Debat Kedua: Makna Debat Kedua
  3. Debat Ketiga: Peneguhan Narasi Calon Wakil Presiden
  4. Debat Keempat: Strategi Memikat Debat Keempat

(Review Debat Capres-Cawapres ini hanya sampai Debat Keempat, karena hingga tugas ini dibuat, belum terjadi/ belum jadwalnya debat kelima)

Satu lagi, kalau nanti melihat isi review saya agak ngawur atau terkesan seperti merangkum, mohon maaf dan semoga memaklumi yaa... Soalnya ngerjainnya juga kejar tayang wkwkwk

Selamat membaca!

_____________________________________


REVIEW DEBAT 1-4 CAPRES-CAWAPRES RI 2019 
DARI HASIL REVIEW PAK GUN GUN HERYANTO

DEBAT PERDANA, 17 JANUARI 2019
Debat Perdana ini menjadi gerbang pembuka kepada masyarakat untuk melihat diskusi antar paslon dan mengetahui visi misi masing-masing. Banyak respon yang diterima, baik itu pujian maupun kritikan, atau bahkan cacian. Memuji yang didukung dan mencaci pesaing dukungannya.

Orang-orang yang masih belum menentukan pilihannya atau swing voter membutuhkan adanya debat ini supaya bisa mendengar penjelasannya, juga membandingkan satu dengan yang lainnya. Inilah tugas yang harus dilakukan oleh kedua paslon untuk bisa mengambil hati masyarakat, karena debat menjadi bagian dari komunikasi persuasive yang dapat memengaruhi lingkungan politik.

Dari teori tindakan beralasan (Reasoned Action Theory) yang disampaikan oleh Pak Gun Gun, kita bisa tahu bahwa intensi atau niat melakukan dan tidak melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh dua penentu dasar, yaitu berhubungan dengan sikap dan dengan pengaruh sosial, yaitu norma subjektif. Norma subjektif ini membuat masyarakat (khususnya yang fanatik) merasa bahwa yang didukungnya lebih benar, lebih unggul, dan ketika paslon nya melakukan kesalahan pasti akan mencari kebenaran hingga sesuai dengan apa yang diinginkannya dan yang dianggapnya benar. Resonansi informasi di berbagai media massa dan media sosial bisa menentukan siapa yang mengontrol narasi.

Peran media menurut Gaye Tuchman (1980) dapat menyusun realitas hingga membuat ‘cerita’. Karena bisa mengarahkan ke suatu narasi, banyak masyarakat yang membuat berbagai opini menurut cerita yang diinginkannya, dan pertarungan opini ini menjadi kekhawatiran pasca-debat yang perlu diwaspadai.

Sebelum forum debat capres perdana ini dilaksanakan, banyak informasi beredar yang mengatakan bahwa pada debat ini pihak KPU memberi kisi-kisi soal untuk pembahasan debat nanti. Ini merupakan model pertanyaan terbuka yang terjadi pada debat pertama, disusun melalui kisi-kisi 20 pertanyaan. Berdasarkan pengamatan Pak Gun Gun selaku pakar politik, ketika para paslon mengetahui pertanyaan terlebih dahulu, akan menciptakan mental blocking dan menjadi tidak lepas dalam menjawab. Hanya terfokus pada catatan-catatan yang dibawa, dan di sisi lain ada yang terdorong untuk fokus untuk mengingat bahan-bahan yang mau disampaikan.

Pada debat pertama ini, ada beberapa tema yang akan didebatkan, yaitu mengenai hukum, HAM, pemberatasan korupsi, dan terorisme. Substansi pesan pada perdebatannya kurang pragmatis, juga kurang proporsionalnya ulasan tentang HAM. Belum terlihat ada keinginan dari kedua belah pihak untuk menuntaskan kasus-kasus besar HAM. 

Manajemen forum debat menjadi salah satu yang juga perlu dievaluasi, pembagian ruang dalam berbicara tidak proporsional, dapat dilihat ketika Pak Jokowi lebih tampil dominan dibanding Pak KH Ma’ruf Amin. Kurangnya manajemen forum ini juga dapat dilihat ketika Pak Prabowo sering overtime.

DEBAT KEDUA, 17 FEBRUARI 2019
Debat kedua ini akan menjadi panggung antar capres, yaitu Pak Jokowi dari paslon 01 dan Pak Prabowo dari paslon 02. Panggung ini dapat dioptimalkan untuk meningkatkan opini positif pada dirinya dan meggoyahkan kepercayaan pemilih kepada pihak lawan. Debat kali ini pun tidak seperti debat sebelumnya yang menggunakan kisi-kisi, jadi ini membuat kesempatan bagi kedua capres untuk menyampaikan paradigma berpikir, orientasi persoalan, data penunjang, logika berpikir, sekaligus prioritas program untuk mengurangi masalah.

Kedua pihak mempunyai pendekatan yang berbeda, dimana Pak Jokowi bisa secara leluasa memaksimalkan elaborasi data dan program andalan pemerintah yang dia pimpin, sedangkan Pak Prabowo harus masuk menantang landasan paradigmatis pembangunan ala Jokowi yang selama ini kerap dikritiknya. Dan yang disayangkan, Pak Prabowo masih kurang optimal dalam memberikan solusi terhadap apa yang ia kritik, dan memberikan alternatif kebijakan untuk lima tahun kedepan. 

Khalayak bisa menikmati sajian narasi jika debat berlangsung interaktif dan menyentuh substansi atau emosi yang diharapkan. Atau, sebaliknya bosan karena tampilan para capres menjemukan. Dalam konteks situasi seperti itu, penting manajemen opini publik terutama dalam strategi membangun koorientasi pada khalayak. Koorientasi terjadi saat dua orang atau lebih yang tadinya baru mengenal atau berada di fase orientasi, akhirnya bersepakat dengan isu, gagasan, program, atau kebijakan yang ditawarkan. Seseorang yang mampu tampil prima dalam mengontrol narasi, dialah yang berpotensi memenangi pertarungan opini. Saat debat, para kandidat perlu mematangkan data dan menguatkan logika. Namun, manajemen opini setelahnya juga sangat diperlukan agar narasi tidak mengalami distorsi.

DEBAT KETIGA, 17 MARET 2019
Debat ketiga yang dilakukan oleh kedua cawapres ini membahas isu pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, serta sosial dan kebudayaan. Hal ini menjadi momentum orientasi pemilih karena isu-isu ini lebih sering melekat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Debat cawapres menjadi panggung pembuktian untuk memastikan bahwa capres bukan sekadar penggembira atau pelengkap semata.

Masyarakat punya ketertarikan yang tinggi terhadap debat cawapres ini karena masyarakat penasaran dan ingin tau bagaimana peran cawapres dalam mengatasi masalah-masalah ini. Sosok Pak Joko Widodo dan Pak Prabowo Subianto, sebagian besar publik sudah memiliki referensi terhadap mereka sejak pemilu 2014 lalu. Perjumpaan Pak KH Ma’ruf Amin vs Pak Sandiaga Uno di panggung debat kali pertama inilah yang menjadi fase orientasi rakyat Indonesia terutama pemilih secara lebih komprehensif atas gagasan, program, peran, dan prospek leadership mereka jika terpilih sebagai cawapres.

Proses orientasi menekan pada tiga indikator, yakni kemenonjolan (salience), relevansi (partinance), dan predisposisi atau preferensi. Kemenonjolan perasaan tentang pasangan kandidat yang berasal dari pengalaman pemilih di situasi sebelumnya. Pak KH Ma’ruf Amin menonjolkan isu penting di berbagai bidang, bidang kesehatan dengan Jaminan Kesehatan Nasional dan Program Keluarga Harapan, bidang pendidikan dengan Kartu Indonesia Pintar, dan bidang-bidang lainnya. Sementara itu, Pak Sandiaga Uno berkali-kali meneguhkan kata-kata kunci yang kerap diulang di beberapa segmen, antara lain, di bidang kesehatan dalam 200 hari masa kerja Prabowo-Sandi jika terpilih akan menyelesaikan masalah tata kelola BPJS, di bidang pendidikan, Sandi menekankan pada pembangunan ekosistem riset, dan bidang-bidang lainnya.

Nilai relatif dari pasangan berdasarkan perbandingan posisi (penantang dan petahana), juga perbedaan gaya serta cara mereka yang terbangun sejak lama. Pak KH Ma’ruf Amin meski saat ini bukan wakil presiden, tetapi melengkapi paket tiket Jokowi yang menjadi petahana. Maka sangatlah wajar, jika tadi malam banyak memberi narasi peneguhan tentang implementasi, cerita sukses, apresiasi dari apa yang sudah dilakukan Jokowi. Sebagai penantang, Pak Sandiaga Uno tampak sekali ada hambatan psikologis dalam proses mengembangkan relasi kuasa sebagai pendebat dari pihak penantang. Hal ini bisa jadi disebabkan strategi untuk bermain lebih santun, lebih memberi sentuhan afeksi, serta seni beretorika yang tidak verbal agresif. Mengingat posisi KH Ma’ruf Amin sebagai senior, ulama, dan tokoh dari organisasi Islam paling besar di Indonesia, yakni NU.

Preferensi menyangkut kerangka referensi evaluatif (kepentingan dan nilai), kognisi pemilih, afeksi dan niat perilaku. Dalam konteks debat cawapres, sesungguhnya tidak akan mengubah banyak perubahan pilihan di masyarakat.

Kondisi debat di panggung berjalan cukup membosankan dan monoton, tidak ditemukan hal baru yang menjadi ketertarikan. Pak Sandiaga Uno yang berposisi menjadi penantang, sepertinya mengembangkan strategi aman dengan tidak mengambil cara verbal agresif. 

DEBAT KEEMPAT, 30 MARET 2019
Debat keempat ini kembali dibawakan oleh kandidat capres, yaitu Pak Jokowi dan Pak Prabowo membahas tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional. Dilihat dari gaya komunikasinya, Pak Prabowo tampak berupaya sekali menjaga ritme dalam berkomunikasi. Diksi-diksi yang diproduksi dalam membungkus narasi banyak yang diperhalus dan mengedepankan sisi lain Prabowo yang lebih humanis. Sementara itu, Jokowi, di debat perdana dan kedua banyak mengambil inisiatif membuka dialektika, mengajukan pertanyaan menohok, dan jawaban yang membuat suasana terutama di debat kedua cukup menghangat.

Mereka berdua kembali ke gaya masing-masing dan berupaya tampil maksimal sesuai dengan karakternya. Pak Jokowi tampak berusaha menampilkan penghormatan pada lawan, meskipun diserang sejak segmen pembukaan lewat pernyataan Pak Prabowo soal praktik jual-beli jabatan di pemerintahannya. Bahkan, saat segmen empat dan lima pun Pak Jokowi tampak mengontrol dirinya untuk tidak asertif. Intonasi suara yang cenderung datar dan stabil, gestur cukup rileks, reaksi atas serangan Pak Prabowo juga tampak tidak berlebihan.

Sementara itu, Pak Prabowo tampak berapi-api, memaksimalkan serangan, dan berupaya all out dengan gaya aslinya, yakni dinamis (dynamic style). Gaya ini bersifat agresif, asertif, bicara blakblakan, dan cenderung sangat berorientasi pada hasil akhir.

Dalam banyak hal, gaya itu juga sering menggunakan diksi-diksi yang cenderung agitatif. Hampir di semua segmen Pak Prabowo menyerang Pak Jokowi, kecuali di segmen penutup dan segmen awal saat membahas ideologi Pancasila yang mana mereka saling melempar pujian dan apresiasi.

Yang menarik dari cara memikat dukungan para pemilih yang masih bimbang dan pemilih yang belum menentukan pilihan oleh Jokowi dan Prabowo di panggung debat ialah benang merah pesan-pesan kunci (key messages). Pak Jokowi selaku petahana berulang-ulang menyampaikan cerita sukses (succsess story) pemerintahanya, sedangkan Pak Prabowo lebih ke pendekatan supremasi.

_____________________________________


Wrote by Fadhlillah Hidayat


Tahun ini lagi panas-panasnya berbagai macam hal, dari panasnya cuaca (matahari) di siang hari, hingga panasnya atau pedes sih? kata-kata yang keluar dari mulut citizen maupun jempol netizen. Kalau cuaca lagi panas itu adalah suatu kewajaran karena emang iklim alam, berbeda dengan panasnya cebong vs kampret dalam berdiskusi, berargumen, atau hujat menghujat. Tidak lain dan tidak bukan yaitu karena po-li-tik.

Cuma karena perbedaan politik, dulunya mereka sesama manusia, sekarang berubah menjadi cebong dan kampret. Dulunya mereka berkawan, sekarang jadi lawan. Dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, namun tidak mengurangi rasa hormat saya. Semoga hal ini hanya berlaku di masa-masa pemilu aja yaakk, setelah itu bisa berdamai kembali demi Bhinneka Tunggal Ika 😇

Berbekal dengan kekhawatiran tersebut, saya ingin tetap jadi manusia aja  ㅋㅋㅋㅋ. Saya males berperan menjadi salah satu diantara cebong atau kampret. Walaupun seandainya saya sudah punya pilihan, saya akan berusaha untuk tetap netral dalam beropini. Peace

Berada di posisi ini mungkin terasa seperti orang yang bermain aman aja. Mungkin takut kalau saya memihak A, si temen yang B nyerang saya, atau sebaliknya. BENER SIH. Tapi, bukan berarti saya berada di posisi yang tepat, karena di posisi ini pun bisa jadi suatu hal yang dijadikan sindiran, like "Ah apaan sih masa kayak gitu", "yang tegas dong arah keberpihakannya kemana" "ngerti kok wahai orang netral", dll. Saya cuma gak pengen terpecah dengan yang lain walaupun sementara, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau seakan-akan jadi orang yang sok netral 🙏

Jangan sampe terlalu fanatik dan jadi buta, menganggap hal buruk sebagai sesuatu yang dianggap baik. Nanti kalau dikecewain rasanya sakit loohh~



Untuk menyejukkan suasana, yuk mari gunakan jempolnya dengan baik dalam menyampaikan argumennya, biar gak panas-panas amat laahh~

Selamat berdemokrasi! ^^


Wrote by Fadhlillah Hidayat
Sumber: Google

Sudah berapa lama hoax merajalela di dalam kehidupan kita? Dan sampai kapan kita termakan oleh hoax?

Sekarang teknologi sudah berkembang, semakin canggih dalam memberikan informasi. Melalui platform manapun, media manapun, baik secara personal maupun massiv, semua bisa dilakukan dengan mudah. Dari situlah ada celah untuk membuat disinformasi atau hoax yang kita tak bisa tangani.

Hoax membuat dampak yang luar biasa, ia bisa memutarbalikan fakta, bisa juga mengadu domba, bisa membuat keresahan dan mengganggu, serta hal-hal lainnya yang bukan memberikan nilai positif.

Seperti halnya kasus hoax-nya Ratna Sarumpaet yang ternyata dia membohongi seluruh rakyat Indonesia, atau hoax tentang penyulikan anak yang sangat jelas membuat masyarakat, khususnya orangtua yang mempunyai anak menjadi resah. Memang di satu sisi bisa membuat orang tua lebih memerhatikan anak-anaknya, tapi di sisi lain akan memberi rasa takut kepada setiap orang, lebih parahnya lagi ini menjadi hal yang akan dicontoh para kriminal.

Seringkali kita lihat juga adu domba antar kubu untuk menjatuhkan lawan mainnya, apalagi sekarang lagi masa panas-panasnya dunia perpolitikan karena menjelang Pilpres 2019, kubu Jokowi menjatuhkan Prabowo, dan kubu Prabowo menjatuhkan Jokowi. Semua masalah langsung digoreng tanpa tabayyun, tanpa mencari fakta, hanya sekedar terprovokasi semata.

Kebebasan bermedia membuat hadirnya penyalahgunaan informasi. Kemungkinan kita tidak bisa menghilangkan, tapi kita bisa menghindari dan mencegahnya. Perlu adanya identifikasi terhadap suatu berita yang mengarah kepada hoax, beberapa langkah sederhana yang bisa membantu kita terhindar dari hoax adalah:


  1. Hati-hati dengan judul provokatif
  2. Cermati alamat situs
  3. Periksa fakta
  4. Cek keaslian foto
  5. Ikut serta kelompok diskusi anti-hoax


Tabayyun yang sederhana, tapi banyak dari kita sebagai masyarakat yang enggan untuk melakukannya. Karena mereka pada tertahan oleh tahap awal (di poin nomor 1) yang setelah melihat judul berita yang provokatif langsung triggered dan langsung menyebarkan berita yang belum jelas tersebut.

Teman-teman, yuk kita sama-sama saling membantu dalam menghadapi problematika yang sederhana tapi dampaknya besar ini. Filter semua berita, apalagi yang berindikasi adanya hoax, karena hoax bukan golongan kami! (hiya hiya hiyaaa)

Jadilah smart people, 
jangan hanya hp nya saja yang smart

Masa kita kalah sama smart phone, 
malu lah sama hp sendiri

Masa kita kalah sama penyebar hoax, 
yang nyebarin hoax pasti seneng banget kalau ada korban yang terkena hoax

Kita memiliki masalah yang sama, maka dari itu mari kita tuntaskan bersama. Jangan diam saja ketika hoax menggerogoti kehidupan kita, karena diam bukanlah pilihan. Ayo lawan HOAX!

- Fadhlillah Hidayat -

Wrote by Fadhlillah Hidayat

Saya bermimpi bahwa seseorang sedang menebak mimpi saya, dan yang saya mimpikan di dalam mimpi saya itu tidak sesuai dengan apa yang orang itu tebak di mimpi saya XD

____________________________

Tokoh:
1. Fadly : diri saya sendiri
2. Azkia : teman kampus
3. Bila : teman kampus sekaligus teman SMP
4. Ibu dan adiknya : ya gataulah ini siapa, yang jelas di cerita ini, mereka lagi jadi ibu dan adiknya
5. Kiday : teman SMA
6. Aji : teman SD, teman masa kecil, saudara
7. Hilmi : teman SD, teman masa kecil, saudara

____________________________

[INI REAL YANG BERADA DI MIMPI SAYA]

Kronologi mimpi:

Saya bermimpi tentang Azkia yang sedang dijemput ibunya dari kampus dan ingin pulang naik kereta, di jalan itu, Azkia mengeluh kepada ibunya (lupa apa yang dikeluhkan), saya ikut berjalan bersama mereka. Setelah itu, tokoh di mimpi itu berubah, dari Azkia menjadi Bila, dan ditambah dengan ibu dan adik2nya.

Bila kesal dengan ibunya terhadap yang dikeluhkannya itu, dan akhirnya Bila meninggalkan ibunya dan kembali ke kampus/kosannya. Dan akhirnya saya beserta ibunya pulang naik kereta berbarengan karena kebetulan searah.

Di dalam perjalanannya, saya lupa dengan apa yang dibahas. Lalu singkat cerita, sudah sampai di stasiun dan sedang berjalan di sebuah gang sempit yang agak menurun. Disana ibunya sudah berjalan di depan, dan anaknya masih jauh di belakang dalam mood yang tidak baik. Kebetulan saya berada di tengah2, akhirnya saya berinisiatif -anjay di mimpi bisa berinisiatif- untuk ke arah anaknya (yang juga adiknya Bila) dan menggendongnya. Dan akhirnya moodnya membaik lagi ^^

Singkat cerita, saya sudah berada di rumah. Dan akhirnya saya baru sadar bahwa saya meninggalkan motor saya di kampus (karena saya selalu berangkat naik motor).

Tiba-tiba, beralih ke adegan bahwa saya sedang terbangun dari mimpi saya (masih di dalam mimpi yang sesungguhnya). Lalu melihat sebuah chat dari Kiday yang berisi tentang tebakan mimpi saya (ceritanya sudah di chat duluan ketika mimpi itu berlangsung tanpa saya memberitahu bahwa saya sedang mimpi).

Bentuk tebakan di chat tersebut berupa point2 yang menjadi potongan alur cerita, namun lupa apa aja tebakannya dan point2nya. Setelah saya baca tebakannya, ada point yang sama dengan yang baru saya mimpikan itu (tapi lupa yang mananya), sisanya salah semua tebakannya. Maka disitu saya menganggap bahwa tebakkannya salah.

Kemudian kembali ke dalam mimpi lagi, kembali melanjutkan mimpi yang tadi. Saya memikirkan harus gimana saya mengambil motor saya yang masih terparkir di kampus tersebut. Saya berpikir bahwa saya akan menggunakan motor saya yang satunya lagi untuk mengambil motor yang di kampus. Tapi setelah dipikirkan kembali, ternyata tidak mungkin karena hanya akan meninggalkan satu motor lagi.

Lalu saya mencoba memikirkan cara lain, yaitu naik kereta, namun rasanya berat sekali untuk naik kereta karena males jalan kakinya. Dan akhirnya memikirkan untuk mengajak teman saya naik motor saya, berangkat bareng kesana, dan teman saya yang membawa motor saya yang satunya.

Ternyata ada kendala lagi, yang dateng ke rumah saya ada 2 orang, yaitu Aji dan Hilmi. Dan mau gak mau rencananya dibuat detail lagi. Kalau naik motor bertiga ke kampus saya, nanti dikhawatirkan kena razia di jalan, dan kalau tetep berdua, kasian teman saya yang satunya lagi..

Setelah berpikir keras, akhirnya terlintas sesuatu yang saya pikirkan, yaitu:

"OH IYA INI KAN GUA CUMA MIMPI YAK, NGAPAIN PUSING2 KEK GINI WKWK"

Lalu akhirnya bangun dari mimpi yang ada di mimpi saya itu, dan juga sekaligus bangun dari mimpi asli saya, jadi bangun dari mimpinya double XD
Wrote by Fadhlillah Hidayat
Sekarang sudah banyak sekali kemajuan dan perkembangan dari segi teknologi, salah satunya yaitu Media. Jika pada zaman old itu medianya masih sebatas media cetak yang sangat terbatas dan hanya perusahaan-perusahaan yang memproduksi media cetak, zaman now mengalami perkembangan drastis, yaitu media digital/online, dimana semua orang bisa mengolah karya atau tulisannya sesuai konten yang diinginkannya sebebas mungkin.

Tidak sedikit para pengguna internet yang mengeluarkan isi pemikirannya di dalam dunia maya ini bisa menjadi seseorang yang sukses ataupun berpengaruh. Contoh sederhananya yaitu Raditya Dika yang dulu aktif sebagai ‘blogger’ dan isi dari artikel tersebut menjadi cerita yang menarik dalam sebuah film layar lebar.

Untuk bisa menuangkan isi, ide, dan pemikiran kita tentunya membutuhkan wadah untuk menampungnya, dan disitulah peran website penyedia blog seperti Blogger, Wordpress, Weebly, dll diperlukan. Blog mempunyai fungsi yang penting, seperti untuk memberi informasi, hiburan, pengetahuan, menceritakan kisah pribadi, bahkan juga untuk tugas, seperti tugas UAS Jurnalistik ini hehehe.

 Pada kesempatan kali ini, yang ingin saya kasih tips yaitu mengenai tata cara membuat Blog melalui Blogger (blogger.com). Silahkan disimak step by step berikut ini:


  1. Buka Browser (Google Chrome, Mozilla Firefox, Opera, dll.)
  2. Pada kolom alamat, ketik http://blogger.com/ , lalu tampilannya akan seperti ini.
  3.  
  4. Pilih Create Your Blog.
  5. Setelah di klik, akan muncul tampilan baru, yaitu tampilan untuk login ke akun Gmail anda. Ketik email kalian lalu klik Next, selanjutnya masukkan password anda.
  6. Setelah login selesai, akan ada tampilan lagi, yaitu untuk mengonfirmasi profil blogger anda. Disana akan ada dua pilihan untuk menggunakan profil, diantaranya yaitu Profil Google+ dan Profil Blogger. Untuk perihal ini, anda bisa memilih salah satu diantara keduanya, karena tujuannya tetap sama. Namun disini saya merekomendasikan untuk memilih Profil Google+
  7. Klik ‘Daftar Blog’
  8. Masukan Judul untuk blog, alamat yang akan dijadikan link, dan menentukan tema sesuai dengan keinginan seperti pada gambar berikut
  9. Klik ‘Buat Blog’, lalu akan muncul tampilan baru sebagai akhir dari pembuatan blog, dan selesai.


Selamat mencoba 😊
Wrote by Fadhlillah Hidayat
Sumber: Instagram @rendy_jho (Rendy Prihartono)
Banyak pemuda zaman now yang masih menikmati masa-masanya hanya untuk sekedar menikmati, namun jarang yang mulai membentuk karir yang cemerlang untuk masa yang akan datang. Berbeda dengan sosok mahasiswa Hukum Keluarga Double Degree Ilmu Hukum Konsentrasi Hukum Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini yang sudah mulai meniti karir sebagai Enterpreneur dan Motivator, yaitu Rendy Prihartono.

Beliau merupakan Founder & CEO @students.backpacker dan juga Owner Rahayu Mandiri Collection (Jasa Konveksi Bogor).

Mahasiswa yang juga termasuk penerima beasiswa Karya Salemba Empat (KSE) ini mempunyai jiwa entrepreneurship yang tinggi. Bahkan, di dalam bagian KSE, beliau menjadi Gubernur Ambassador BPJSTK (BPJS Ketenagakerjaan) Batch 3. Dengan itu semua, langkah demi langkah yang sudah dipersiapkan menghasilkan suatu kesuksesan, semakin maju untuk meraih tujuannya.

Berkenaan dengan Students Backpacker, dalam waktu dekat ini akan menjalankan trip ke Hongkong-Macao, tepatnya pada pertengahan Februari 2018 mendatang. Kak Rendy sudah mempersiapkan dengan baik untuk nanti keberangkatan, dan info-info yang berkaitan sudah dipublikasikan melalui akun Instagram Students Backpacker (@students.backpacker).

Tidak hanya meroket di bidang Enterpreneur saja, Kak Rendy juga sukses mengisi acara sebagai MC, Ice Breaker, dan menjadi seorang Motivator. Seorang pemuda yang bisa memotivasi pemuda lainnya bahkan yang lebih tua darinya adalah suatu kesuksesan yang amat sangat membanggakan. Beliau sudah terbang ke berbagai tempat untuk mengisi acara-acara sebagai MC, Ice Breaker, sekaligus motivator, terakhir kali beliau mengisi seminar sebelum tulisan ini ditulis yaitu di acara Seminar Achievement Motivator Training, Be a Winner in Life di Universitas Tanjung Pura, Pontianak.

Menemani Motivator Nasional Mas Afif Ar-rahman sebagai Master of Ceremony sekaligus Ice Breaker dalam acara Achievment Motivation Training, Be a Winner in Life, Cara mudah menjadi seorang Pemenang di Universitas Tanjung Pura, Pontianak - Kalimantan Barat. #Motivator #Entrepreneur #Writer #peluangbisnis #indonesia #motivasiindonesia #bisnisterbaru #marketing #enterpreneur #milyader #millionairelifestyle #pengusahamuda #pengusahamudaindonesia #pengusahaindonesiabisnis #pengusahamuslim #pengusahakeren #motivasi #bisnis #bisnismu #bisnisonline #bisnisanakmuda #motivasipagi #wirausaha #wirausahamandiri #bisnismudah #bisnis2017 #kisahsukses #sukses #peluangbisnis #indonesia #motivasiindonesia #bisnisterbaru #marketing #enterpreneur #milyader #millionairelifestyle #pengusahamuda #pengusahamudaindonesia #pengusahaindonesiabisnis #pengusahamuslim #pengusahakeren #motivasi #bisnis #bisnismu #bisnisonline
A post shared by Rendy Prihartono (@rendy_jho) on Dec 10, 2017 at 10:26pm PST

Menjadi manfaat untuk orang lain merupakan hal yang sangat mulia, karena Rasulullah pun mengajak seluruh manusia untuk memberikan manfaat, seperti dalam haditsnya Rasulullah bersabda: “khoirunnas anfa’uhum linnas”.

Dik, kuliah itu enggak melulu hanya menjadi Aktivis atau Akademisi, lebih dari itu kita bisa memilih menjadi mahasiswa Berprestasi yang Organisatoris serta mengembangkan Bisnis untuk masa depan sejak muda. - Rendy Prihartono, Founder and CEO @students.backpacker || Owner @RM.Collect
A post shared by Rendy Prihartono (@rendy_jho) on Nov 26, 2017 at 12:12am PST
“Dik, kuliah itu enggak melulu hanya menjadi Aktivis atau Akademisi, lebih dari itu kita bisa memilih menjadi mahasiswa Berprestasi yang Organisatoris serta mengembangkan Bisnis untuk masa depan sejak muda.” -Rendy Prihartono

Freedom #22th menjadi salah satu goals terbesar kak Rendy Prihartono.



A post shared by Rendy Prihartono (@rendy_jho) on Dec 12, 2017 at 4:20am PST
Wrote by Fadhlillah Hidayat
Pasar Segar Depok sebagai lokasi pelayanan SIM (Satpas Pasar Segar).
Foto: Fadhlillah Hidayat

DEPOK – Saat ini Surat Izin Mengemudi (SIM) adalah hal yang harus dimiliki bagi setiap orang yang mengemudikan kendaraan di jalan raya. Terlebih lagi, proses pembuatan SIM sangat memakan waktu yang sangat lama dikarenakan antrean yang panjang, lalu dilanjutkan dengan tes berupa tes teori dan tes praktik yang belum tentu berhasil dilalui atau tidak lulus tes.
Biasanya, pada tes teori pemohon tidak terlalu banyak kendala lantaran pertanyaannya seputar lalu lintas dan etika berkendara di jalan raya. Mungkin yang menjadi kelemahan di tes teori ini pertanyaan mengenai undang-undang tentang transportasi, karena undang-undang adalah hal yang sangat jarang dipelajari, hanya tau berkendara itu gini-gini dan gitu-gitu aja.
Ditambah lagi, tes praktik menjadi kendala yang cukup sulit, pemohon dihadapkan dengan rintangan di lapangan yang sudah disediakan, seperti jalan yang membentuk angka 8 dan dilarang menginjakkan kaki ke aspal untuk tes SIM C.
Banyak orang-orang zaman sekarang yang menghalalkan segala cara untuk menempuh hal yang diinginkannya secara instan. Hal ini pun terjadi pada setiap orang yang ingin membuat SIM. Ada jalan “pintas” yang bisa ditempuh untuk mendapatkan SIM dengan cepat, yaitu dengan calo. Tak sedikit warga yang memanfaatkan jasa calo untuk memuluskan jalan mendapatkan SIM. Pemohon terpaksa ‘bersahabat’ dengan calo padahal tindakan seperti itu adalah tindakan illegal dan bertentangan dengan hukum.

Situasi di dalam Gedung Pelayanan SIM Pasar Segar Depok
Perlu diketahui bahwa di Depok memiliki dua lokasi pelayanan SIM, yaitu di Satuan Penyelenggara Administrasi SIM (Satpas) Depok Kota dan Satpas Pasar Segar Depok. Saya berusaha menyamar menjadi warga yang ingin membuat SIM. Dalam penelusuran ini lokasi yang jadi sasaran adalah di Pasar Segar Depok. Berdasarkan informasi yang beredar, Pasar Segar Depok adalah tempat dimana para pemohon banyak yang membuat SIM dengan bantuan calo. Berbeda dengan yang di Depok Kota yang sangat minim dengan aksi calo.

Ketika berkunjung ke Satpas Pasar Segar, sejumlah calo agresif secara terang-terangan menawarkan jasa untuk membuat SIM dengan cepat dan tanpa mengikuti tes -walaupun sebenarnya tetap mengikuti tes tetapi hanya sebagai formalitas saja-, intinya tidak ribet. Awalnya saat saya datang dan baru memarkirkan kendaraannya, calo datang dengan tampilan berseragam dan mengawali pembicaraan basa-basi yang baginya adalah suatu cara untuk memberi kode ke pemohon. “Selamat pagi, mas. Mau perpanjang SIM atau bikin SIM Baru?,” ujar pria calo tersebut, Kamis (02/11/2017).
Setelah menawarkan dan pemohon berpura-pura menerima jasa dari calo tersebut, si calo memberi arahan untuk mengikutinya kearah warung yang terletak di pinggir gedung. “Baik mas, jika setuju mari ikuti saya. Tapi jalannya agak berjarak dan jalan biasa aja supaya gak ada yang curiga.” lanjut si calo.

Ternyata ada oknum lain yang mungkin mereka bekerjasama. Saya diajak kewarung dan ditemani sang penjaga warung, dialah yang mengurus masalah administrasi pembuatan SIM instan. Disaat saya diantar ke warung tersebut, si calo yang tadi mengantarkan saya ke warung hendak meninggalkan saya dan kembali ke arah parkiran untuk mencari mangsa baru.
Si penjaga warung mematok harga untuk pembuatan SIM C sebesar Rp 500.000 dan SIM A sebesar Rp 600.000 tanpa tes, hanya dengan fotokopi KTP saja. “Kalau mau bikin SIM C sekarang 500 ribu mas. Nanti kalau fix saya minta KTP mas untuk saya fotokopi, setelah itu bakal diproses sampe selesai, masnya nunggu di dalem saja sampe namanya dipanggil, nanti foto trus SIM nya bisa diambil.” tuturnya meyakinkan pemohon.

Peraturan Pemerintah mengenai Jenis dan
Tarif Penerbitan SIM
Setelah berbincang-bincang, akhirnya saya memutuskan untuk membatalkan jasa calo tersebut dengan alasan tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar biaya pembuatan SIM tersebut. Saya menuju kedalam pasar untuk menguak informasi lebih lanjut. Disana tertera Peraturan Pemerintah mengenai penerbitan SIM, tepatnya Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2016, pembuatan SIM A baru sebesar Rp 120.000 dan SIM C baru sebesar Rp 100.000.

Di dalam pasar banyak para pemohon yang sedang menunggu panggilan untuk proses pembuatan SIM. Hasil survey yang dilakukan menjelaskan bahwa para pemohon yang saya tanya-tanya lebih dominan membuat SIM dengan jalan pintas dari calo yang sudah jelas ilegal. Yang menjadi alasan untuk membuat SIM melalui calo adalah karena supaya lebih mudah dan tidak mau ambil pusing. “Soalnya saya mah gak mau ambil pusing, yang penting hari ini SIM jadi. Karena saya takut juga kalau gak pake jalan pintas nanti saya gak lulus tes malah jadi harus kesini lagi, keluarin uang lagi dan harus mengorbankan waktu lagi.” ujar Fajri, salah satu pemohon.


Mungkin di Pasar Segar Depok ini hanyalah salah satu dari sekian banyak lokasi yang menjadi ladang calo untuk menawarkan jasanya. Namun, apakah tindakan ilegal ini akan menjadi hal yang lumrah?
Wrote by Fadhlillah Hidayat
Sebuah kiriman dibagikan oleh LDK Syahid (@ldksyahid) pada Des 8, 2017 pada 4:27 PST


Lembaga Dakwah Kampus (LDK) Syahid UIN Jakarta mengadakan Seminar dan Talkshow Qurani pada hari Kamis (7/12/2017) di Masjid Fathullah UIN Jakarta.

Dari berbagai rangkaian kegiatan Syahid Fair UIN Jakarta 2017, acara yang menjadi Closing Syahid Fair ini diisi dengan narasumber Archie Fitrah Wirija (Founder QuranIDProject) dan Muzammil Hasballah (Quran Recited).

Foto bersama Muzammil Hasballah setelah acara Seminar dan Talkshow Qurani di Masjid Fathullah UIN Jakarta (7/12/2017)


Dalam materinya, Ustadz Muzammil menjelaskan mengenai kaidah dari Alquran surat Al-Baqarah ayat 2, membahas bahwa di dalam Alquran tidak ada keraguan. “Kitab Alquran ini yang tidak ada keraguan, petunjuk bagi orang yang bertaqwa. Kalau kita baca mushaf terjemah Kemenag Indonesia, terjemahnya seperti ini. Tapi kalau kita melihat tafsir, itu lebih detail lagi, karena terjemah dari Alquran itu baru gambaran singkat.”

Selain itu, beliau juga menjelaskan mengenai kehebatan Allah dalam menyusun isi dan makna ayat di dalam Alquran, salah satunya yaitu Ayat Kursi (Al-Baqarah ayat 255). “Ayat itu turun ada Sabaabun Nuzulnya, ada sebab-sebab turunnya, ada hikmahnya. Tapi kalau kita lihat susunannya luar biasa, indah. Itu baru satu ayat, belum kita bahas surat yang lain, ayat yang lain.”

Setelah kajian seminar berakhir, dilanjut dengan penggalangan dana untuk kaum muslimin yang membutuhkan bantuan, seperti yang terkena bencana di Indonesia, maupun Muslim yang berada di Palestina, Rohingya, dan tempat lainnya.

Kegiatan ini diikuti oleh ratusan peserta, baik dari mahasiswa UIN itu sendiri maupun dari umum. Acara berakhir dengan shalat maghrib berjama’ah yang dipimpin oleh Ustadz Muzammil Hasballah.

Wrote by Fadhlillah Hidayat
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me




Saya adalah seorang yang biasa, namun ingin mengekspresikan diri saya melalui media, yang salah satunya adalah blog ini. So, be happy and enjoy it!

-Fadhlillah Hidayat

LinkedIn Profile


M. Nurfadhlillah Hidayat

My Running Journey

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  April (1)
      • Mimpi Laptop Hilang
  • ►  2020 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2017 (11)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)

Let's Support GFriend!

Copyright Fadhlillah Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Populernya tuh Disini!

  • [SOSIAL] Jalan “Pintas” Bikin SIM Cepat di Depok
  • [HUMAN INTEREST] Mengenal Enterpreneur dan Motivator Muda, Rendy Prihartono
  • [AGAMA] Talkshow Qurani bersama Muzammil Hasballah
  • Pendekatan Teori SOLAADS Frank Jefkins dalam Contoh Siaran Pers
  • Kotak Pandora dari (G)I-DLE, Suatu Konsep Nightmare yang Memukau
  • Pedas Mantap Hadir di Berani Festival 2019
  • PBAK 2016, Day 1 : Pra-PBAK / Gladi Resik
  • PBAK 2016 SERIES
  • Goodbye, My Obsession!
  • Perpisahan yang Akan Kembali Bertemu

Pengikut

PENGUNJUNG FADLY

Categories

Story Kuliah Opini Cinta Narasi Politik UAS Jurnalistik Pemilu 2019 UTS Teknik Publikasi Hati Mimpi Inspirasi Korean Zone Magang Owner PBAK 2016 Profile Straight News (G)I-DLE COMFEST 2017 Drama Review Feature News ICONIC Indonesia Interview KKN My Target Pabangbon Queendom

Panutanqu

  • kaoskakibau.com - by ron
    The EXhOrizon Saga: PART 3 – The Flight Drama (2)
    1 minggu yang lalu
  • 68ACA :: a modest thought
    Main Jungkat-Jungkit
    6 tahun yang lalu

Copyright © 2015 fadlytheworld. Designed by OddThemes