• Home
  • Content
    • #Jikalau
    • Tugas Kuliah
      • UAS Jurnalistik
      • UTS Teknik Publikasi
    • Politik
      • Pemilu 2019
    • Internship Stories
    • Korean Zone
      • K-Pop Review
      • K-Drama Review
  • Travel
    • KKN di Desa Pabangbon
  • Find Me
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • Email
  • Ask Me!
  • Owner
fadlytheworld


Baru-baru ini lagi viral video ekslusif Ustadz Abdul Somad yang ngobrol bersama salah satu capres, Prabowo Subianto. Apa isi percakapannya? Kalau dilihat dari inti percakapannya, mungkin bisa dibilang bahwa itu adalah sebuah 'deklarasi' dukungan terhadap paslon nomor 2.


UAS menceritakan kisah pribadinya yang selama berdakwah di berbagai tempat, jama'ahnya selalu mengumandangkan hal-hal yang mengarah kepada Prabowo-Sandi. Ditambah lagi, UAS mendapat cerita dari beberapa ustadz lokal (gak masyhur/terkenal) bahwa Prabowo ada di dalam mimpinya. Bukan sekali-dua kali, namun lima kali. Selengkapnya bisa di cek videonya yaa..



Setelah video itu tersebar luas, bagaimana dampaknya? Kita semua tau bahwa UAS adalah salah satu tokoh ustadz yang sangat terkenal di Indonesia, dan memiliki pengaruh yang besar. Dengan adanya ungkapan dari UAS mengenai politik ini, bukan hal yang tidak mungkin jama'ahnya akan mengikuti jejak UAS untuk memilih Prabowo, juga bukan hal yang tidak mungkin untuk meninggalkan UAS karena berbeda pilihan. Mungkin kalau di klasifikasikan akan terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Mengikuti jejak UAS dalam memilih
Sudah sewajarnya jika jama'ah mentaati dan mengikuti arahan dari sang guru/ustadz, karena seorang guru pasti selalu berusaha menyampaikan segala hal yang baik. Selain itu, para jama'ah yakin bahwa menuruti apa yang diyakini oleh gurunya akan memberikan berkah dan manfaat terhadap dirinya. Hal ini bisa berdampak besar kepada masyarakat yang masih belum menentukan pilihannya (swing voter), juga mempengaruhi seseorang yang sebelumnya mendukung lawan.

2. Meninggalkan UAS karena dianggap tidak netral lagi
Dengan masuknya UAS ke dalam ranah politik (walau hanya sekedar berbicara dengan Prabowo ini), sebagian jama'ah juga pasti ada yang merasa kecewa karena kapasitas UAS sebagai da'i (pendakwah) sudah tidak netral lagi. Mereka yang kecewa tersebut berpikirnya bahwa cukuplah UAS fokus untuk berdakwah ke semua umat di Indonesia, jangan dicampur adukkan dengan politik. Karena sejauh ini, isi dakwah beliau hampir tidak pernah menyentuh isu politik (khususnya pemilu di Indonesia) dan hanya membahas perkara-perkara Islam saja. Maka, ada juga yang akhirnya meninggalkan UAS dan (mungkin) mencari ustadz lain yang lebih cocok untuknya.

3. Tetap bersama UAS apapun pilihannya
Ada juga jama'ah yang tetap bersama UAS walaupun ia dan gurunya berbeda pilihan. Karena mereka merasa bahwa dalam memilih itu adalah hak setiap orang dan bukan menjadi alasan untuk meninggalkan UAS. Jama'ah yang seperti ini mungkin lebih mengharapkan ilmu yang diberikan oleh UAS.

Dokumentasi ketika saya hadir bertemu dengan Ustadz Abdul Somad

Mungkin ada keempat, kelima, dan seterusnya. Itu silahkan kalian beropini, sekiranya ada jenis yang lainnya, itu memberi cara pandang yang berbeda dan saling melengkapi. Karena tiga jenis yang saya tulis ini hanya berdasarkan pengamatan saya yang saya temukan dari berbagai platform media sosial, entah itu komentar di youtube, facebook, maupun instagram.

Apa alasan UAS mengungkapkan dukungannya tersebut? Berdasarkan video ekslusif tersebut, sudah menjelaskan bahwa ia yang awalnya merasa ragu, setelah melihat keadaan umat dan mendengar cerita ustadz lainnya, akhirnya UAS merasa yakin seperti yang saya tulis diatas. Setelah itu, UAS juga berpesan kepada presiden terpilih nanti (melalui Prabowo) supaya tidak mengundang beliau ke istana, dan beliau tidak mau diberi jabatan. Ini hal yang cukup menarik, karena beliau gak mau apa yang selama ini orang-orang mau. Ada yang menjelaskan seperti ini:

Sumber: Internet (dimana-mana ada, tak ada sumber yang spesifik)

Saya kurang memahami tafsir tersebut, tapi setelah mendapat penjelasan ini, saya merasa bahwa pesan yang disampaikan oleh UAS ini sangat bermakna. Karena memang sudah sewajarnya Ulama itu didatangi, bukan mendatangi. Ulama bukan ditempatkan sebagai bawahan (yang disimbolkan dengan jabatan), karena Ulama-lah yang akan menjadi salah satu penasihat untuk kebaikan negeri.

Selain itu semua, kalau kita lihat dari sisi psikologisnya, menurut saya (dan mungkin sebagian orang) UAS merasa harus memberikan harapannya kepada Prabowo atas apa yang ia rasakan selama berdakwah. Karena yang kita tau, gak semua aktivitas safari dakwah yang dilakukan oleh UAS itu berjalan mulus, terkadang beliau juga sering mendapat rintangan dan penolakan. Contohnya ketika ingin berdakwah di Bali, beliau ditolak oleh oknum warga setempat karena dianggap anti Pancasila, setiap ingin berdakwah diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk bisa menjamin bahwa UAS ini memang nasionalis. Padahal nyatanya sosok UAS ini memang taat kepada ideologi Pancasila bahkan tanpa harus diminta ini itu yang meribetkan. Tidak hanya di Bali saja, beliau juga terkadang mendapat penolakan di berbagai tempat.

Dari kejadian-kejadian tersebut, UAS merasa heran terhadap pemerintah karena tidak melakukan apa-apa dan terkesan membiarkan begitu saja, padahal dengan kejadian tersebut sebenarnya membuat perpecahan antar bangsa. Bahkan di keadaan tersebut, malah jadi terpecah, "Kami Indonesia, Kami Pancasila. Umat Islam anti Pancasila!". Padahal seharusnya pemerintah bisa meredamkan keadaan seperti ini untuk menyatukan bangsa yang bersaudara setanah air.

UAS akhirnya menaruh harapan kepada Prabowo supaya beliau dan aktivis dakwah lainnya bisa menjalankan tugasnya untuk berdakwah dengan aman, tenang, dan tentram, membuat Indonesia bersatu kembali. Tapi, siapapun nanti yang akan terpilih, saya berharap supaya bisa menjalankan amanah UAS ini dengan baik, juga amanah terhadap rakyat Indonesia tentunya. Terimakasih 🙏


Wrote by Fadhlillah Hidayat
Alhamdulillah saya diundang untuk menjadi moderator debat capres pertama ini, WKWKWK


Disclaimer:
Hasil review ini merupakan salah satu tugas kuliah saya pada matkul Komunikasi Politik yang diampu oleh Pak Gun Gun Heryanto, M.Si. Saya pikir, daripada tulisan itu hanya menjadi sekedar tugas saja, rasanya masih kurang bermanfaat karena sudah pasti beliau sebagai dosen tau isi dari tugas tersebut, sedangkan yang membutuhkan informasi ini adalah khalayak umum. Maka dari itu, saya berkeinginan untuk mempublikasikan tugas saya melalui blog ini, semoga bisa menjadi manfaat. Aamiin yaa Allah

Oh iya, review yang saya buat ini berdasarkan hasil review dosen saya sendiri, yaitu Pak Gun Gun yang dimuat dalam beberapa portal berita (Republika dan Media Indonesia). Jadi ini adalah ngereview hasil review yang di review oleh beliau 😅

Untuk melihat hasil review aslinya, temen-temen bisa cek link dibawah ini:

  1. Debat Pertama: Evaluasi Debat Capres Perdana
  2. Debat Kedua: Makna Debat Kedua
  3. Debat Ketiga: Peneguhan Narasi Calon Wakil Presiden
  4. Debat Keempat: Strategi Memikat Debat Keempat

(Review Debat Capres-Cawapres ini hanya sampai Debat Keempat, karena hingga tugas ini dibuat, belum terjadi/ belum jadwalnya debat kelima)

Satu lagi, kalau nanti melihat isi review saya agak ngawur atau terkesan seperti merangkum, mohon maaf dan semoga memaklumi yaa... Soalnya ngerjainnya juga kejar tayang wkwkwk

Selamat membaca!

_____________________________________


REVIEW DEBAT 1-4 CAPRES-CAWAPRES RI 2019 
DARI HASIL REVIEW PAK GUN GUN HERYANTO

DEBAT PERDANA, 17 JANUARI 2019
Debat Perdana ini menjadi gerbang pembuka kepada masyarakat untuk melihat diskusi antar paslon dan mengetahui visi misi masing-masing. Banyak respon yang diterima, baik itu pujian maupun kritikan, atau bahkan cacian. Memuji yang didukung dan mencaci pesaing dukungannya.

Orang-orang yang masih belum menentukan pilihannya atau swing voter membutuhkan adanya debat ini supaya bisa mendengar penjelasannya, juga membandingkan satu dengan yang lainnya. Inilah tugas yang harus dilakukan oleh kedua paslon untuk bisa mengambil hati masyarakat, karena debat menjadi bagian dari komunikasi persuasive yang dapat memengaruhi lingkungan politik.

Dari teori tindakan beralasan (Reasoned Action Theory) yang disampaikan oleh Pak Gun Gun, kita bisa tahu bahwa intensi atau niat melakukan dan tidak melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh dua penentu dasar, yaitu berhubungan dengan sikap dan dengan pengaruh sosial, yaitu norma subjektif. Norma subjektif ini membuat masyarakat (khususnya yang fanatik) merasa bahwa yang didukungnya lebih benar, lebih unggul, dan ketika paslon nya melakukan kesalahan pasti akan mencari kebenaran hingga sesuai dengan apa yang diinginkannya dan yang dianggapnya benar. Resonansi informasi di berbagai media massa dan media sosial bisa menentukan siapa yang mengontrol narasi.

Peran media menurut Gaye Tuchman (1980) dapat menyusun realitas hingga membuat ‘cerita’. Karena bisa mengarahkan ke suatu narasi, banyak masyarakat yang membuat berbagai opini menurut cerita yang diinginkannya, dan pertarungan opini ini menjadi kekhawatiran pasca-debat yang perlu diwaspadai.

Sebelum forum debat capres perdana ini dilaksanakan, banyak informasi beredar yang mengatakan bahwa pada debat ini pihak KPU memberi kisi-kisi soal untuk pembahasan debat nanti. Ini merupakan model pertanyaan terbuka yang terjadi pada debat pertama, disusun melalui kisi-kisi 20 pertanyaan. Berdasarkan pengamatan Pak Gun Gun selaku pakar politik, ketika para paslon mengetahui pertanyaan terlebih dahulu, akan menciptakan mental blocking dan menjadi tidak lepas dalam menjawab. Hanya terfokus pada catatan-catatan yang dibawa, dan di sisi lain ada yang terdorong untuk fokus untuk mengingat bahan-bahan yang mau disampaikan.

Pada debat pertama ini, ada beberapa tema yang akan didebatkan, yaitu mengenai hukum, HAM, pemberatasan korupsi, dan terorisme. Substansi pesan pada perdebatannya kurang pragmatis, juga kurang proporsionalnya ulasan tentang HAM. Belum terlihat ada keinginan dari kedua belah pihak untuk menuntaskan kasus-kasus besar HAM. 

Manajemen forum debat menjadi salah satu yang juga perlu dievaluasi, pembagian ruang dalam berbicara tidak proporsional, dapat dilihat ketika Pak Jokowi lebih tampil dominan dibanding Pak KH Ma’ruf Amin. Kurangnya manajemen forum ini juga dapat dilihat ketika Pak Prabowo sering overtime.

DEBAT KEDUA, 17 FEBRUARI 2019
Debat kedua ini akan menjadi panggung antar capres, yaitu Pak Jokowi dari paslon 01 dan Pak Prabowo dari paslon 02. Panggung ini dapat dioptimalkan untuk meningkatkan opini positif pada dirinya dan meggoyahkan kepercayaan pemilih kepada pihak lawan. Debat kali ini pun tidak seperti debat sebelumnya yang menggunakan kisi-kisi, jadi ini membuat kesempatan bagi kedua capres untuk menyampaikan paradigma berpikir, orientasi persoalan, data penunjang, logika berpikir, sekaligus prioritas program untuk mengurangi masalah.

Kedua pihak mempunyai pendekatan yang berbeda, dimana Pak Jokowi bisa secara leluasa memaksimalkan elaborasi data dan program andalan pemerintah yang dia pimpin, sedangkan Pak Prabowo harus masuk menantang landasan paradigmatis pembangunan ala Jokowi yang selama ini kerap dikritiknya. Dan yang disayangkan, Pak Prabowo masih kurang optimal dalam memberikan solusi terhadap apa yang ia kritik, dan memberikan alternatif kebijakan untuk lima tahun kedepan. 

Khalayak bisa menikmati sajian narasi jika debat berlangsung interaktif dan menyentuh substansi atau emosi yang diharapkan. Atau, sebaliknya bosan karena tampilan para capres menjemukan. Dalam konteks situasi seperti itu, penting manajemen opini publik terutama dalam strategi membangun koorientasi pada khalayak. Koorientasi terjadi saat dua orang atau lebih yang tadinya baru mengenal atau berada di fase orientasi, akhirnya bersepakat dengan isu, gagasan, program, atau kebijakan yang ditawarkan. Seseorang yang mampu tampil prima dalam mengontrol narasi, dialah yang berpotensi memenangi pertarungan opini. Saat debat, para kandidat perlu mematangkan data dan menguatkan logika. Namun, manajemen opini setelahnya juga sangat diperlukan agar narasi tidak mengalami distorsi.

DEBAT KETIGA, 17 MARET 2019
Debat ketiga yang dilakukan oleh kedua cawapres ini membahas isu pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, serta sosial dan kebudayaan. Hal ini menjadi momentum orientasi pemilih karena isu-isu ini lebih sering melekat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Debat cawapres menjadi panggung pembuktian untuk memastikan bahwa capres bukan sekadar penggembira atau pelengkap semata.

Masyarakat punya ketertarikan yang tinggi terhadap debat cawapres ini karena masyarakat penasaran dan ingin tau bagaimana peran cawapres dalam mengatasi masalah-masalah ini. Sosok Pak Joko Widodo dan Pak Prabowo Subianto, sebagian besar publik sudah memiliki referensi terhadap mereka sejak pemilu 2014 lalu. Perjumpaan Pak KH Ma’ruf Amin vs Pak Sandiaga Uno di panggung debat kali pertama inilah yang menjadi fase orientasi rakyat Indonesia terutama pemilih secara lebih komprehensif atas gagasan, program, peran, dan prospek leadership mereka jika terpilih sebagai cawapres.

Proses orientasi menekan pada tiga indikator, yakni kemenonjolan (salience), relevansi (partinance), dan predisposisi atau preferensi. Kemenonjolan perasaan tentang pasangan kandidat yang berasal dari pengalaman pemilih di situasi sebelumnya. Pak KH Ma’ruf Amin menonjolkan isu penting di berbagai bidang, bidang kesehatan dengan Jaminan Kesehatan Nasional dan Program Keluarga Harapan, bidang pendidikan dengan Kartu Indonesia Pintar, dan bidang-bidang lainnya. Sementara itu, Pak Sandiaga Uno berkali-kali meneguhkan kata-kata kunci yang kerap diulang di beberapa segmen, antara lain, di bidang kesehatan dalam 200 hari masa kerja Prabowo-Sandi jika terpilih akan menyelesaikan masalah tata kelola BPJS, di bidang pendidikan, Sandi menekankan pada pembangunan ekosistem riset, dan bidang-bidang lainnya.

Nilai relatif dari pasangan berdasarkan perbandingan posisi (penantang dan petahana), juga perbedaan gaya serta cara mereka yang terbangun sejak lama. Pak KH Ma’ruf Amin meski saat ini bukan wakil presiden, tetapi melengkapi paket tiket Jokowi yang menjadi petahana. Maka sangatlah wajar, jika tadi malam banyak memberi narasi peneguhan tentang implementasi, cerita sukses, apresiasi dari apa yang sudah dilakukan Jokowi. Sebagai penantang, Pak Sandiaga Uno tampak sekali ada hambatan psikologis dalam proses mengembangkan relasi kuasa sebagai pendebat dari pihak penantang. Hal ini bisa jadi disebabkan strategi untuk bermain lebih santun, lebih memberi sentuhan afeksi, serta seni beretorika yang tidak verbal agresif. Mengingat posisi KH Ma’ruf Amin sebagai senior, ulama, dan tokoh dari organisasi Islam paling besar di Indonesia, yakni NU.

Preferensi menyangkut kerangka referensi evaluatif (kepentingan dan nilai), kognisi pemilih, afeksi dan niat perilaku. Dalam konteks debat cawapres, sesungguhnya tidak akan mengubah banyak perubahan pilihan di masyarakat.

Kondisi debat di panggung berjalan cukup membosankan dan monoton, tidak ditemukan hal baru yang menjadi ketertarikan. Pak Sandiaga Uno yang berposisi menjadi penantang, sepertinya mengembangkan strategi aman dengan tidak mengambil cara verbal agresif. 

DEBAT KEEMPAT, 30 MARET 2019
Debat keempat ini kembali dibawakan oleh kandidat capres, yaitu Pak Jokowi dan Pak Prabowo membahas tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional. Dilihat dari gaya komunikasinya, Pak Prabowo tampak berupaya sekali menjaga ritme dalam berkomunikasi. Diksi-diksi yang diproduksi dalam membungkus narasi banyak yang diperhalus dan mengedepankan sisi lain Prabowo yang lebih humanis. Sementara itu, Jokowi, di debat perdana dan kedua banyak mengambil inisiatif membuka dialektika, mengajukan pertanyaan menohok, dan jawaban yang membuat suasana terutama di debat kedua cukup menghangat.

Mereka berdua kembali ke gaya masing-masing dan berupaya tampil maksimal sesuai dengan karakternya. Pak Jokowi tampak berusaha menampilkan penghormatan pada lawan, meskipun diserang sejak segmen pembukaan lewat pernyataan Pak Prabowo soal praktik jual-beli jabatan di pemerintahannya. Bahkan, saat segmen empat dan lima pun Pak Jokowi tampak mengontrol dirinya untuk tidak asertif. Intonasi suara yang cenderung datar dan stabil, gestur cukup rileks, reaksi atas serangan Pak Prabowo juga tampak tidak berlebihan.

Sementara itu, Pak Prabowo tampak berapi-api, memaksimalkan serangan, dan berupaya all out dengan gaya aslinya, yakni dinamis (dynamic style). Gaya ini bersifat agresif, asertif, bicara blakblakan, dan cenderung sangat berorientasi pada hasil akhir.

Dalam banyak hal, gaya itu juga sering menggunakan diksi-diksi yang cenderung agitatif. Hampir di semua segmen Pak Prabowo menyerang Pak Jokowi, kecuali di segmen penutup dan segmen awal saat membahas ideologi Pancasila yang mana mereka saling melempar pujian dan apresiasi.

Yang menarik dari cara memikat dukungan para pemilih yang masih bimbang dan pemilih yang belum menentukan pilihan oleh Jokowi dan Prabowo di panggung debat ialah benang merah pesan-pesan kunci (key messages). Pak Jokowi selaku petahana berulang-ulang menyampaikan cerita sukses (succsess story) pemerintahanya, sedangkan Pak Prabowo lebih ke pendekatan supremasi.

_____________________________________


Wrote by Fadhlillah Hidayat


Tahun ini lagi panas-panasnya berbagai macam hal, dari panasnya cuaca (matahari) di siang hari, hingga panasnya atau pedes sih? kata-kata yang keluar dari mulut citizen maupun jempol netizen. Kalau cuaca lagi panas itu adalah suatu kewajaran karena emang iklim alam, berbeda dengan panasnya cebong vs kampret dalam berdiskusi, berargumen, atau hujat menghujat. Tidak lain dan tidak bukan yaitu karena po-li-tik.

Cuma karena perbedaan politik, dulunya mereka sesama manusia, sekarang berubah menjadi cebong dan kampret. Dulunya mereka berkawan, sekarang jadi lawan. Dan masih banyak hal lainnya yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, namun tidak mengurangi rasa hormat saya. Semoga hal ini hanya berlaku di masa-masa pemilu aja yaakk, setelah itu bisa berdamai kembali demi Bhinneka Tunggal Ika 😇

Berbekal dengan kekhawatiran tersebut, saya ingin tetap jadi manusia aja  ㅋㅋㅋㅋ. Saya males berperan menjadi salah satu diantara cebong atau kampret. Walaupun seandainya saya sudah punya pilihan, saya akan berusaha untuk tetap netral dalam beropini. Peace

Berada di posisi ini mungkin terasa seperti orang yang bermain aman aja. Mungkin takut kalau saya memihak A, si temen yang B nyerang saya, atau sebaliknya. BENER SIH. Tapi, bukan berarti saya berada di posisi yang tepat, karena di posisi ini pun bisa jadi suatu hal yang dijadikan sindiran, like "Ah apaan sih masa kayak gitu", "yang tegas dong arah keberpihakannya kemana" "ngerti kok wahai orang netral", dll. Saya cuma gak pengen terpecah dengan yang lain walaupun sementara, jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau seakan-akan jadi orang yang sok netral 🙏

Jangan sampe terlalu fanatik dan jadi buta, menganggap hal buruk sebagai sesuatu yang dianggap baik. Nanti kalau dikecewain rasanya sakit loohh~



Untuk menyejukkan suasana, yuk mari gunakan jempolnya dengan baik dalam menyampaikan argumennya, biar gak panas-panas amat laahh~

Selamat berdemokrasi! ^^


Wrote by Fadhlillah Hidayat
Sumber: Google

Sudah berapa lama hoax merajalela di dalam kehidupan kita? Dan sampai kapan kita termakan oleh hoax?

Sekarang teknologi sudah berkembang, semakin canggih dalam memberikan informasi. Melalui platform manapun, media manapun, baik secara personal maupun massiv, semua bisa dilakukan dengan mudah. Dari situlah ada celah untuk membuat disinformasi atau hoax yang kita tak bisa tangani.

Hoax membuat dampak yang luar biasa, ia bisa memutarbalikan fakta, bisa juga mengadu domba, bisa membuat keresahan dan mengganggu, serta hal-hal lainnya yang bukan memberikan nilai positif.

Seperti halnya kasus hoax-nya Ratna Sarumpaet yang ternyata dia membohongi seluruh rakyat Indonesia, atau hoax tentang penyulikan anak yang sangat jelas membuat masyarakat, khususnya orangtua yang mempunyai anak menjadi resah. Memang di satu sisi bisa membuat orang tua lebih memerhatikan anak-anaknya, tapi di sisi lain akan memberi rasa takut kepada setiap orang, lebih parahnya lagi ini menjadi hal yang akan dicontoh para kriminal.

Seringkali kita lihat juga adu domba antar kubu untuk menjatuhkan lawan mainnya, apalagi sekarang lagi masa panas-panasnya dunia perpolitikan karena menjelang Pilpres 2019, kubu Jokowi menjatuhkan Prabowo, dan kubu Prabowo menjatuhkan Jokowi. Semua masalah langsung digoreng tanpa tabayyun, tanpa mencari fakta, hanya sekedar terprovokasi semata.

Kebebasan bermedia membuat hadirnya penyalahgunaan informasi. Kemungkinan kita tidak bisa menghilangkan, tapi kita bisa menghindari dan mencegahnya. Perlu adanya identifikasi terhadap suatu berita yang mengarah kepada hoax, beberapa langkah sederhana yang bisa membantu kita terhindar dari hoax adalah:


  1. Hati-hati dengan judul provokatif
  2. Cermati alamat situs
  3. Periksa fakta
  4. Cek keaslian foto
  5. Ikut serta kelompok diskusi anti-hoax


Tabayyun yang sederhana, tapi banyak dari kita sebagai masyarakat yang enggan untuk melakukannya. Karena mereka pada tertahan oleh tahap awal (di poin nomor 1) yang setelah melihat judul berita yang provokatif langsung triggered dan langsung menyebarkan berita yang belum jelas tersebut.

Teman-teman, yuk kita sama-sama saling membantu dalam menghadapi problematika yang sederhana tapi dampaknya besar ini. Filter semua berita, apalagi yang berindikasi adanya hoax, karena hoax bukan golongan kami! (hiya hiya hiyaaa)

Jadilah smart people, 
jangan hanya hp nya saja yang smart

Masa kita kalah sama smart phone, 
malu lah sama hp sendiri

Masa kita kalah sama penyebar hoax, 
yang nyebarin hoax pasti seneng banget kalau ada korban yang terkena hoax

Kita memiliki masalah yang sama, maka dari itu mari kita tuntaskan bersama. Jangan diam saja ketika hoax menggerogoti kehidupan kita, karena diam bukanlah pilihan. Ayo lawan HOAX!

- Fadhlillah Hidayat -

Wrote by Fadhlillah Hidayat


Masih ada sekitar 1,5 hingga 2 tahun untuk Ahmad Heryawan menyelesaikan tugas dan amanahnya sebagai Pemimpin Jawa Barat. Dan waktu yang sama pun berlaku untuk salah satu Walikota yang akan maju menjadi JABAR 1, yaitu Kang Emil, sapaan umum untuk Pak Ridwan Kamil. Dan saat ini sudah mulai tercium aroma politik di Jawa Barat disaat pesta demokrasi di Ibukota masih berlangsung.

Seperti berita yang akhir-akhir ini sedang ramai, bahwa Parpol NasDem melangkah lebih awal dan mencuri start untuk mengusung calon gubernur (cagub) Jawa Barat, yaitu Ridwan Kamil. Pada hari minggu (19/3/2017), NasDem resmi mendeklarasikan dukungannya bagi Kang Emil untuk maju sebagai cagub Jabar 2018-2023. Masih telalu pagi untuk Kang Emil memperhatikan ini, karena masih ada yang harus lebih diperhatikan, yaitu Bandung yang belum terselesaikan, yang harus difokuskan olehnya. Namun tidak perlu dikhawatirkan, karena Kang Emil sudah mengatakan bahwa Janji Bandung belum beres dan masih ada 2 tahun anggaran 2017 dan 2018 untuk dibelanjakan mengejar sisa mimpi (yang belum terlaksana).

Diketahui bahwa dalam Deklarasi tersebut, dalam pidatonya Surya Paloh selaku pimpinan NasDem memberi syarat untuk Kang Emil, yaitu :
  1. Menjadikan Jawa Barat sebagai Benteng Pancasila
  2. Tidak bergabung dengan parpol manapun, bahkan berlaku untuk NasDem
  3. Mensukseskan pencalonan Jokowi dalam Pilpres 2019
Dengan peristiwa deklarasi dari NasDem untuk Kang Emil tersebut, banyak para ahli politik dan pengamat menganalisis maksud dan tujuan NasDem ini. Motif ini terlihat dari syarat yang diungkapkan oleh Surya Paloh, yaitu

Pertama, makna “benteng Pancasila” adalah semangat kemajemukan dan pluralisme. Dua kata tersebut identik dengan makna “kebhinnekaan” yang selalu dipakai untuk menyudutkan kekuatan politik islam, memojokkan umat Islam yang berpegang teguh memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam berpolitik. Kita tahu bahwa NasDem adalah parpol barisan Nasionalis Sekuler, dan NasDem ingin memastikan bahwa kang Emil satu barisan dengan ideologi mereka sekaligus menjauhkannya dengan kekuatan politik Islam. NasDem juga ingin menjadikan pak RK sebagai “model/sales” bagi ideologi nasionalis sekuler yang dianutnya.

Kedua, RK tidak akan bergabung dengan parpol manapun. Selama ini pun beliau bekerja untuk rakyat, dan bukan kader parpol manapun, selalu bisa membuktikan bisa bekerja profesional tanpa campur tangan partai. Bahkan ketika pilwalkot Bandung 2013 diusung oleh Gerindra & PKS dan terpilih, beliau tetap bekerja dan fokus dengan pekerjaannya tanpa ada konflik kepentingan dengan partai-partai pengusungnya. Jadi maksud dari syarat kedua ini hanya untuk mendapat simpati public bahwa RK akan bekerja tanpa tekanan partai, padahal memang sejatinya beliau selalu seperti itu.

Ketiga, NasDem akan kembali mendukung Jokowi pada pilpres 2019, secara tidak langsung meminta kang Emil sebagai “model pencari suara”. Kalau seseorang sudah mengidolakan tokoh yang diidolakannya, pasti apapun akan dilakukan untuk mendukungnya. Itulah motif untuk mendapat dukungan memilih Jokowi dari ajakan kang Emil, gambarannya seperti itu. Hal itu sangat penting karena di Jawa Barat, dukungan untuk Jokowi tak terlalu kuat, di pilpres 2014 lalu suara Jokowi kalah jauh dibanding Prabowo, dan saat ini kang Emil disetting untuk mengubah itu.

Keempat, dengan memberikannya dukungan kepada kang Emil, diharapkan sosok yang sarat prestasi dan elektabilitas tinggi itu bisa mendongkrak nama NasDem di Jawa Barat.

Dengan deklarasi dini, NasDem ingin dianggap sebagai partai yang paling berjasa bagi Ridwan Kamil untuk mensukseskan dan menang di pilgub Jabar 2018 nanti. Dan keuntungan bagi NasDem dan partai lain yang nantinya akan berkoalisi sangatlah besar untuk mendapatkan posisi dan memperkuat Jokowi menduduki nusantara untuk yang kedua kalinya.






Referensi :
http://portal-islam.id/2017/03/mengupas-motif-partai-nasdem-calonkan.html
http://twitter.com/roninpribumi
Wrote by Fadhlillah Hidayat (@mnfh_fadly)


Dalam kehidupan kita, semuanya membutuhkan sebuah proses dari satu hal menuju ke hal yang lain. Dan karena kehidupan kita hanya sekali, maka kita harus menggunakan kehidupan kita ini dengan sebaik mungkin, apalagi memori ingatan yang ada di otak kita ini tidak kekal abadi (karena kata Ariel itu Tak Ada Yang Abadi~), pasti lambat laun akan melemah dan menghilang. Banyak orang semakin bertambah usia hidupnya, semakin lemah tingkat memori kita untuk mengingat sesuatu, semakin tua semakin pikun lah istilahnya, tapi yang bikin bingung adalah orang yang masih muda tapi udah agak pikun, mikirin apa aja sih nih orang sampe gampang banget cepet lupanya-_- tapi gak semua orang seperti itu kok, hanya pada saat-saat tertentu aja itu mah.

Karena tak selamanya kita bisa selalu mengingat dengan jelas semua peristiwa yang terjadi dengan kita, maka dari itu saya akan membuat sebuah memori di luar pikiran saya, yang akan terus tetep bisa di inget dikala kita mulai lupa, yaitu dituliskan dalam sebuah wadah, dan wadah itu adalah blog saya. Kalaupun nanti saya udah berusia 60 tahun keatas dan sudah mulai melupakan kejadian saat ini, saya bisa melihatnya kembali dalam sebuah tulisan yang saya curahkan disini. Walaupun nantinya ketika saya berusia tua dan melihat tulisan ini, saya merasa bahwa saya agak berlebihan, tapi bukan alay yaa sekarang mah. Sekarang aja kalau diinget-inget lagi, ketika saya melihat kenangan di zaman saya ketika jenjang SMP, saya ngerasa bahwa saya dulu alay banget-_- sekarang aja yang udah baru mau kuliah tiba-tiba ngeliat itu rasanya kayak pengen ngomong “anjir, dulu kok gua alay banget yaa-_-“ dan akhirnya ngerasa malu sendiri sama masa lalu wkwk. Mungkin nanti beberapa tahun kedepan ketika saya flashback dan melihat kenangan di zaman ini saya akan menilai kembali seperti apa zaman ini hehe.

Sebenernya menulis adalah hal yang menyenangkan, sebuah perkataan yang bisa kita liat secara langsung dengan cara membacanya, jadi jangan ragu untuk menceritakan kisah anda untuk nantinya bisa anda lihat di masa yang akan datang. Sekian dan terima kasih :)
Wrote by Fadhlillah Hidayat
Postingan Lama Beranda

About Me




Saya adalah seorang yang biasa, namun ingin mengekspresikan diri saya melalui media, yang salah satunya adalah blog ini. So, be happy and enjoy it!

-Fadhlillah Hidayat

LinkedIn Profile


M. Nurfadhlillah Hidayat

My Running Journey

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  April (1)
      • Mimpi Laptop Hilang
  • ►  2020 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2017 (11)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)

Let's Support GFriend!

Copyright Fadhlillah Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Populernya tuh Disini!

  • [SOSIAL] Jalan “Pintas” Bikin SIM Cepat di Depok
  • [HUMAN INTEREST] Mengenal Enterpreneur dan Motivator Muda, Rendy Prihartono
  • [AGAMA] Talkshow Qurani bersama Muzammil Hasballah
  • Pendekatan Teori SOLAADS Frank Jefkins dalam Contoh Siaran Pers
  • Kotak Pandora dari (G)I-DLE, Suatu Konsep Nightmare yang Memukau
  • Pedas Mantap Hadir di Berani Festival 2019
  • PBAK 2016, Day 1 : Pra-PBAK / Gladi Resik
  • PBAK 2016 SERIES
  • Goodbye, My Obsession!
  • Perpisahan yang Akan Kembali Bertemu

Pengikut

PENGUNJUNG FADLY

Categories

Story Kuliah Opini Cinta Narasi Politik UAS Jurnalistik Pemilu 2019 UTS Teknik Publikasi Hati Mimpi Inspirasi Korean Zone Magang Owner PBAK 2016 Profile Straight News (G)I-DLE COMFEST 2017 Drama Review Feature News ICONIC Indonesia Interview KKN My Target Pabangbon Queendom

Panutanqu

  • kaoskakibau.com - by ron
    The EXhOrizon Saga: PART 3 – The Flight Drama (2)
    3 bulan yang lalu
  • 68ACA :: a modest thought
    Main Jungkat-Jungkit
    7 tahun yang lalu

Copyright © 2015 fadlytheworld. Designed by OddThemes