• Home
  • Content
    • #Jikalau
    • Tugas Kuliah
      • UAS Jurnalistik
      • UTS Teknik Publikasi
    • Politik
      • Pemilu 2019
    • Internship Stories
    • Korean Zone
      • K-Pop Review
      • K-Drama Review
  • Travel
    • KKN di Desa Pabangbon
  • Find Me
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • Email
  • Ask Me!
  • Owner
fadlytheworld


Banyak prespektif yang muncul mengenai film/drama, orang-orang awam biasanya menilai bahwa drama korea berisikan kisah-kisah mengenai percintaan, karena drakor yang lebih sering terangkat dan populer itu tentang romance, ditambah lagi banyak para pemuda, khususnya kaum hawa yang setelah menonton drakor akan terbawa perasaannya dan mengharapkan kisah cintanya mulus dan se-romantis pasangan di drakor. Dari pemikiran tersebut, drakor dianggap sebagai ikon dari cerita asmara, sama halnya seperti kita menonton sinetron Indonesia yang sering kita liat di layar tv.

Untuk memperbaiki streotip yang ada di masyarakat, kita perlu memberitahu bahwa drakor tidaklah sesempit itu. Sama seperti film, drakor juga memiliki berbagai genre yang semuanya bisa kita nikmati. Kalau kita ingin menghindari cerita cinta, kita bisa memilih genre lain yang ceritanya juga tetap berkualitas.

Harus diakui kalau kualitas drama korea ini patut diacungi jempol karena kualitas ceritanya gak main-main. Bukan mau merendahkan karya negara sendiri, tapi saya rasa Indonesia juga perlu belajar dari sini supaya kualitasnya lebih baik lagi. Karena sejauh ini, kesan yang didapat dari sinetron Indonesia yaa gitu-gitu aja, dan juga biasanya cerita di sinetron itu tergantung sama ratingnya, selama itu sinetron punya rating penonton yang bagus, pasti sinetronnya tetep terus tayang dan ceritanya dibikin ngalor-ngidul sampe kita gak tau sebenernya ini tuh ceritanya tentang apa. Liat aja sinetron yang jualan bubur itu, bayangin aja episodenya udah ribuan gitu, pasti penulis skenarionya dibikin mabok dan kru produksinya capek gara-gara kejar tayang banget wkwkwk.

"Makanya saya gak mau ngambil tawaran kalau produksi yang series (ber-episode) gitu, karena pasti capek dikejar tayang." - Pak Iskandar, dosen praktisi

Berbeda dengan drama korea, dimana konsep, ide, ceritanya semua udah bener-bener mateng sebelum diproduksi, udah jelas juga berapa episodenya dan gak akan ada perpanjangan episode kecuali memang episode spesial, itupun episodenya diluar cerita inti. Atau kalaupun memang ada perpanjangan episode gitu pasti jarang. Biasanya drakor diproduksi dari jauh-jauh hari sebelum di rilis, jadinya mereka menyelesaikan syutingnya terlebih dahulu dan setelah semuanya rampung, baru bisa meluncur. Apalagi kalau drama yang genrenya ke arah fantasy atau sci-fi gitu, pasti butuh waktu lagi untuk membuat CGI atau efek-efek tertentu yang dibutuhkan. Mereka gak mau liat orang pura-pura naik hewan terbang tetapi yang keliatan di tv cuma orang duduk beralaskan kain berwarna hijau gara-gara lupa di edit WKWKWK.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa ada juga beberapa drama yang produksi atau syutingnya kejar tayang gitu. Setidaknya, alasan yang paling logis di kepala saya itu mereka menghindari kejar tayang, dan pasti ada alasan dan pertimbangan lainnya yang belum saya ketahui.

Bukan ingin menjatuhkan, tapi ini sebuah kritik yang harapannya membuat dunia perfilman kita jadi jauh lebih baik. Kritik untuk membangun itu boleh kan? :)

____________

To be honest, tadinya ini tuh mau ngereview drama Vagabond, tapi intronya kepanjangan gini, saya pun heran XD

Karena ini udah lumayan panjang dan terlihat seperti punya topik tersendiri, yaudah berarti reviewnya di lain waktu aja deng hehehe ._.v

Wrote by Fadhlillah Hidayat


Peristiwa kehilangan motor kini sudah menjadi hal yang biasa, setiap daerah banyak yang terjadi hal serupa. Dan yang sangat disayangkan, tempat-tempat ibadah seperti Masjid menjadi sasaran empuk untuk melakukan kejahatan. Padahal sejatinya tempat seperti itu merupakan tempat yang sakral dan para penganut ajarannya tahu betul konsekuensi dari perbuatan tercela tersebut. Namun, hal ini bukanlah hal yang harus dibiasakan, dan tentunya harus dituntaskan.

Wartawan MNFH News M. Nurfadhlillah Hidayat datang ke Polsek Bekasi dan secara khusus mewawancarai Fadly selaku saksi sekaligus pahlawan dalam masalah ini untuk mengetahui kronologi lengkapnya.

_

Adzan Dzuhur telah berkumandang menandakan waktu sholat telah tiba. Seperti biasa, para jama'ah berwudhu terlebih dahulu, lalu melaksanakan shalat dzuhur berjama'ah di Masjid Darul Ihsan, Perumahan Sehati, Bekasi Utara pada hari Sabtu (19/10). AS (20) juga berada di sana berpura-pura mengikuti shalat.

Secara kebetulan, Fadly datang ke masjid agak telat dan menjadi masbuq. Ketika ia baru selesai wudhu, tiba-tiba ada seseorang yang meninggalkan shaf shalat sebelum shalat selesai. Dengan rasa penasaran, Fadly menghampiri orang tersebut dengan mengumpat. Dan betul, ternyata AS sedang mengutak-atik lubang kunci motor. "Saya baru selesai wudhu tiba-tiba ada yang meninggalkan shaf padahal shalatnya belum selesai, yaudah saya diem-diem mengintip tindakan dia," ujar Fadly.

Melihat kejadian tersebut, Fadly mulai bergegas menghampiri AS untuk menangkapnya, namun baru satu langkah saja ia langsung reflek berhenti bergerak lantaran pistol yang ada di saku celana pelaku. Terlihat juga sebuah golok yang tercetak dibalik jaket bak ninja semakin membuatnya merasa terancam.

Untuk melawan rasa takut tanpa melakukan tindakan yang nekat, Fadly berinisiatif untuk melakukan semuanya secara diam-diam dan mengikuti pelaku menggunakan sepeda motornya dari kejauhan. Hal ini supaya pelaku tidak curiga ada orang yang membuntutinya.

Pengejaran tersebut terhenti di sebuah rumah kontrakan beralamat di Jalan Kamal yang menjadi tempat tinggalnya. Fadly berhasil menemukan lokasi AS tanpa diketahui dan membiarkan beberapa hari supaya pelaku tidak merasa dikejar. Ia kembali lagi ke masjid dan menjelaskan ke korban yang masih mencari-cari motornya yang tiba-tiba menghilang. Tak luput juga ia menjelaskan strategi yang jitu untuk menangkap pelaku.

Hari demi hari, secara tidak langsung Fadly telah berperan menjadi detektif, karena ia memantau pergerakan AS dari jauh yang melakukan pencurian motor di tempat lainnya. Pelaku memang spesialis mencuri di tempat parkir yang memang paling rawan karena tidak dijaga, bahkan dengan adanya tukang parkir pun hal ini masih bisa kecolongan karena memang "kebanyakan" biasanya mereka hanya diam saja dan hanya menunggu upah yang diberikan oleh pengendara.

Ia mengumpulkan berbagai bukti melalui jepretan ponsel pintarnya yang dapat menerawang jarak yang cukup jauh. Yang mengejutkan adalah: AS menggunakan narkotika jenis sabu sebelum ia melakukan pencurian. Dengan semua bukti yang Fadly dapat, dia berasumsi bahwa pelaku melakukan pencurian motor untuk membeli sabu yang sudah memberikan candu di kehidupannya.

"Saat itu saya langsung berasumsi kalau dia (AS) terpaksa mencuri untuk membeli sabu. Kan narkoba mah bikin ketagihan gitu, ya!" tegas Fadly.

Kamisnya (24/10), Fadly bersama korban melaporkan kejadian sabtu lalu ke Polsek Bekasi, dan Polsek menurunkan tim-nya untuk mengepung rumah kontrakan tersebut. Mereka berhasil mengamankan pelaku beserta barang buktinya berupa STNK motor, dua buah kunci kontak, satu set kunci letter T, satu buah senjata api jenis Softgun, satu buah golok, dan satu alat bong hisap sabu.

Atas segala perbuatannya tersebut, pelaku (AS) dikenakan Pasal 363 KUHP dengan hukuman penjara maksimal 12 tahun.

Kapolsek Bekasi Kompol Dwiyatmoko memberikan apresiasi kepada Fadly atas tindakannya yang tenang dan berhati-hati dalam menangkap maling. Ia diberi gelar Duta Penyelidikan Indonesia dan sejumlah uang sebesar 2 juta rupiah.

Fadly menjelaskan kepada Wartawan MNFH News bahwa ia juga telah membuat kehebohan ketika prosesi pemberian apresiasi tersebut. "Tapi, pas saat itu (pemberian apresiasi) saya memberi pidato yang heboh, Mas!" ucap Fadly dengan nada yang terlihat serius.

"Saya tiba-tiba diminta pidato, karena saya bingung, saya asal bilang begini: "Saya juga menyadari kalau saya sering nyabu." mereka langsung pada kaget mas. Abis itu saya langsung lanjutin ngomong "nyabu-nya nyarap bubur! Hehehe"," tambah Fadly dengan humor versinya.


*Setelah itu wartawannya males nulis cerita ini -_-*





M. Nurfadhlillah Hidayat
11160510000039
Teknik Publikasi KPI 7B
Wrote by Fadhlillah Hidayat


Bekasi - Pria berinisial AS (20) telah diamankan oleh Tim Polsek Bekasi atas peristiwa pencurian sepeda motor yang terjadi di Masjid Darul Ihsan, Perumahan Sehati, Bekasi Utara pada Sabtu lalu (19/10).

Kapolsek Bekasi Kompol Dwiyatmoko mengungkapkan, penangkapan AS berkat laporan salah satu warga yang melihat peristiwa tersebut. "Tersangka kedapatan melakukan pencurian motor di Masjid, ada salah satu warga yang melihat. Karena saksi takut dengan senjata api yang ada di saku celana pelaku, akhirnya dia menghubungi kami sambil diam-diam mengikuti tersangka untuk mengetahui tempat tinggal AS."

Menurut keterangan saksi yang bernama Fadly, pelaku melakukan aksinya ketika Shalat Dzuhur di masjid, pelaku melakukan modus pencuriannya dengan berpura-pura ikut shalat supaya tidak dicurigai. Shalat belum usai, pelaku langsung meninggalkan shafnya yang kebetulan berada di shaf belakang dan melancarkan aksinya. "Saya baru selesai wudhu tiba-tiba ada yang meninggalkan shaf padahal shalatnya belum selesai, yaudah saya diem-diem mengintip tindakan dia," ujar Fadly.

AS ditangkap di kediamannya yang berlokasi Jalan Kamal, Bekasi oleh Tim Polsek Bekasi yang dipimpin oleh Kompol Dwiyatmoko pada hari Kamis (24/10).

Polisi berhasil mengamankan barang bukti berupa STNK motor, dua buah kunci kontak, satu set kunci letter T, satu buah senjata api jenis Softgun, satu buah golok, dan satu alat bong hisap sabu. Diketahui AS menggunakan narkotika sejenis sabu sebelum melakukan pencurian.

Atas perbuatannya tersebut, pelaku dikenakan Pasal 363 KUHP dengan hukuman penjara maksimal 12 tahun.

M. Nurfadhlillah Hidayat
11160510000039
Teknik Publikasi KPI 7B
Wrote by Fadhlillah Hidayat


Jakarta – Kuliner di Indonesia hari ini kian subur dan diminati oleh semua masyarakat. Hal ini membuat semaraknya pengadaan festival kuliner di sepanjang tahun, salah satunya yaitu Berani Festival yang diselenggarakan di Pondok Indah Mall selama tiga hari mulai Jum’at (25/10) hingga Minggu.

Ikut menyemarakkan festival ini, Pedas Mantap tidak datang hanya dengan booth tetapi juga menjadi Official Enjoy Partner serta menyediakan banyak kegiatan hingga memberikan promo dan diskon yang dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung.

Ika Gurmanis, selaku Marketing Manager Pedas Mantap mengatakan “Ditengah maraknya inovasi kuliner saat ini, cita rasa pedas yang khas tetap menjadi faktor utama, salah satunya yang berasal dari saus. Di Indonesia sendiri, saus merupakan bumbu masakan yang tak terpisahkan dari budaya makan sehari-hari. Melalui momen ini, Pedas Mantap yang terbuat dari cabai dan bahan alami berkualitas tinggi hadir untuk melengkapi resep masakan Anda untuk sebuah cita rasa yang tak terlupakan. Dalam kegiatan ini pula, kami berkesempatan untuk dapat berinteraksi langsung dengan seluruh konsumen kami.”

Jika berkunjung ke booth mereka, pengunjung juga akan merasakan pengalaman menarik karena mereka telah mempersiapkan berbagai kegiatan yang bersifat edutainment. Contohnya yaitu mengumpulkan stempel dari kartu yang telah diberikan ketika awal masuk dengan imbalan bingkisan dari Berani Festival. Pengunjung juga bisa menyaksikan live cooking demo dengan sejumlah koki yang diundang oleh Pedas Mantap.

Tidak hanya itu saja, pengunjung dapat mengikuti permainan lempar gelang ke dalam botol saus setelah membeli produk Pedas Mantap minimal senilai Rp25,000,-. Setiap pemain akan berkesempatan mendapatkan berbagai hadiah menarik seperti Pedas Mantap ukuran 225 ml, kaos, tas lipat, dan setiap harinya akan ada undian yang diumumkan via Instagram bagi para peserta yang beruntung untuk mendapatkan voucher belanja Tas senilai Rp500,000,-.

Pengunjung juga dapat mengabadikan keseruan acara dengan interactive photobooth. Dimana, seluruh pengunjung dapat mencoba instan photo bersama. Harapannya, pengalaman yang dirasakan di festival ini bisa menjadi kenangan bersama keluarga atau kerabat yang ikut hadir. (fad)

M. Nurfadhlillah Hidayat
11160510000039
Teknik Publikasi KPI 7B

Wrote by Fadhlillah Hidayat


Dalam membuat Press Release terdapat unsur-unsur yang perlu diperhatikan, salah satunya yaitu penggunaan rumus “The Seven Point Model” milik Frank Jefkins atau biasa disebut dengan “SOLAADS” dengan tujuan untuk mengecek bahan material informasi dan menghilangkan bahan-bahan yang kurang penting dalam siaran press release. Ketujuh unsur tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Subject (Subyek) : Apa yang dituturkan/disampaikan dalam cerita
  2. Organization (Organisasi): Apa nama organisasi yang bersangkutan
  3. Location (Lokasi) : Dimana lokasi organisasi itu 
  4. Advantage (Keunggulan): Keunggulan news values
  5. Application (Penerapan) : Apa saja kegunaan atau manfaatnya
  6. Details (Rincian) : Apa rincian releasenya
  7. Source (Sumber) : Dimana produk/sumber itu bisa diperoleh
Artinya, press release yang ditulis diupayakan mengandung informasi-informasi tentang tujuh unsur tersebut.


Contoh Press Release:

Jakarta, 25 Oktober 2019 - Antusiasme masyarakat yang tinggi terhadap dunia kuliner telah berdampak dengan semaraknya festival kuliner baru yang bermunculan di Indonesia, salah satunya adalah Berani Festival 2019 yang ingin membawa experience konten kuliner online ke dalam wadah offline untuk menyatukan para food lovers, untuk itu tidak ketinggalan, Pedas Mantap, saus dari Danone turut hadir memeriahkan perhelatan festival kuliner tersebut yang digelar mulai 25 - 27 November 2019 di Pondok Indal Mall, Jakarta. Selain mengisi booth pada acara ini, Pedas Mantap juga hadir sebagai Official Enjoy Partner serta menyediakan banyak kegiatan hingga promo dan diskon yang dapat dinikmati oleh seluruh pengunjung.

“Ditengah maraknya inovasi kuliner saat ini, cita rasa pedas yang khas tetap menjadi faktor utama, salah satunya yang berasal dari saus. Di Indonesia sendiri, saus merupakan bumbu masakan yang tak terpisahkan dari budaya makan sehari-hari. Melalui momen ini, Pedas Mantap yang terbuat dari cabai dan bahan alami berkualitas tinggi hadir untuk melengkapi resep masakan Anda untuk sebuah cita rasa yang tak terlupakan. Dalam kegiatan ini pula, kami berkesempatan untuk dapat berinteraksi langsung dengan seluruh konsumen kami,” ujar Ika Gumarnis, Marketing Manager Pedas Mantap.

Berbagai kegiatan hiburan yang bersifat edutainment telah dipersiapkan oleh Pedas mantap baik di dalam booth maupun di Pedas Stage. “Akan ada beberapa aktivitas yang kami persembahkan untuk dapat diikuti oleh seluruh pengunjung. Misalnya, ketika awal masuk, pengunjung akan menerima sebuah kartu untuk mengumpulkan stempel di beberapa booth yang ada di sini, salah satunya adalah booth kami. Apabila pengunjung berhasil mengumpulkan seluruh stempel, maka pengunjung berhak mendapatkan bingkisan menarik dari Endeus Festival ketika check-out. Selain itu, akan ada live cooking demo dengan beberapa chef yang kami undang seperti Sumarto yang akan menghadirkan masakan Asia, Chef Rani Pratiwi untuk kuliner Indonesia dan Chef Risa Firdaus yang akan mendemokan masakan Western menggunakan Pedas Mantap,” tambah Ika Gumarnis.

Tidak hanya itu saja, untuk aktivitas di dalam booth pengunjung dapat mengikuti permainan lempar gelang ke dalam botol saus setelah membeli produk Pedas Mantap minimal senilai Rp25,000,- (berlaku kelipatan). Setiap pemain akan berkesempatan mendapatkan berbagai hadiah menarik seperti Pedas Mantap ukuran 225 ml, kaos, tas lipat, dan setiap harinya akan ada undian yang diumumkan via instagram bagi para peserta yang beruntung untuk mendapatkan voucher belanja Tas senilai Rp500,000,-.

Salah satu kegiatan unik dan menarik lainnya dalam booth Pedas Mantap di acara ini adalah interactive photobooth. Dimana, seluruh pengunjung dapat mencoba instan photo bersama dan setelahnya akan dipersilakan untuk mencoba bumbu cocolan snack yang diracik menggunakan Pedas Mantap sesuai dengan zodiak masing-masing! Menarik sekali bukan?

Ayo, ikutin keseruan festival kuliner ini bersama Pedas Mantap. Kamu bisa ajak seluruh keluargamu dan masuk ke area festival secara cuma-cuma! Untuk informasi lebih lanjut kunjungi akun instagram @pedas mantap. Tunggu apalagi, cicipi kuliner dengan rasa teristimewa dan ciptakan momen manismu untuk rasa yang terlupakan bersama Pedas Mantap!


Wrote by Fadhlillah Hidayat
Penampilan (G)I-DLE membawakan lagu 싫다고 말해 (Nightmare Ver.) di Queendom

Baru-baru ini, (G)I-DLE memberikan penampilan yang mengerikan tetapi memukau dengan lagu 싫다고 말해 (Put It Straight) di acara survival Queendom, acara yang memperebutkan gelar Ratu diantara para Idol Girlgrup.

Listen on Spotify
Original Ver. | Nightmare Ver.


Kalau diulas dari babak sebelumnya, babak kedua <Cover Contest> adalah babak yang paling buruk bagi Yuqi cs ini, karena saat itu mereka berada di posisi ke-6 alias terakhir. Banyak yang menilai penampilan (G)I-DLE dalam membawakan lagu 2NE1 - Fire itu menjatuhkan ekspetasi para penonton bahkan dari grup lain, yang berharap penampilan itu akan lebih bagus, melihat bagusnya penampilan mereka di babak pertama yang luar biasa dan membuat mereka meraih posisi pertama.



Untungnya setelah mendengar posisi mereka yang tidak menguntungkan itu, mental mereka tetap kuat dan bahkan semakin semangat untuk memberikan penampilan yang lebih baik. Mereka bisa seperti itu berkat sang leader, Jeon Soyeon. Memang sih, Soyeon ini bisa dibilang punya mental yang sangat kuat karena kompetisi seperti ini merupakan hal yang sudah pernah dia rasakan. Dia sendiri pernah mengikuti ajang survival seperti Unpretty Rapstar 3 dan Produce 101 Season 1. Dengan kemampuannya sebagai seorang pemimpin, Soyeon bisa dengan baik menjadi support system bagi (G)I-DLE. Bisa dibilang, Soyeon ini orang yang jadi otak dari grupnya dan hal itu membuat member lainnya jadi overshadowed. Ini cuma opini pribadi aja sih ya, soalnya ngeliat Soyeon yang membimbing anggotanya, juga dia yang mengkomposeri dan menulis lagu untuk grupnya.

Masuk ke babak selanjutnya, yaitu babak <Box of Pandora>, dimana pada babak ini mereka diminta menampilkan lagu yang direkomendasikan oleh fansnya. Soyeon menekankan bahwa ia akan memberikan penampilan yang lebih baik, ia senang berada di posisi bawah karena baginya ketika berada di bawah adalah kesempatan untuk bisa naik. 

Mereka melihat-lihat data lagu yang direkomendasikan oleh fans, lalu muncul lagu Put It Straight sebagai salah satu lagu yang direkomendasikan. Soyeon menyampaikan opininya bahwa lagu ini cocok untuk ditampilkan, dia juga sudah menembus alam pikirannya untuk menggambarkan konsep lagu ini, dia berniat membuat penampilan yang menggila. Lagu Put It Straight ini menceritakan tentang seseorang yang ditinggalkan oleh kekasihnya, dan Soyeon ingin membawakannya dengan memberi emosi yang marah sekaligus sedih. Selain dari konsep lagu, ia juga sudah memikirkan konsep pakaiannya. Soyeon ingin menunjukkan pakaian yang sebenarnya lazim menjadi tidak lazim, dimana seharusnya gaun itu umumnya identik dengan menggunakan alas seperti sepatu kaca, tetapi disini ia ingin membuatnya tanpa alas kaki agar terkesan gila.



Berkat penampilannya itu, (G)I-DLE mendapat respon yang positif dari penonton dan netizen. Mereka menilai bahwa dari segala aspek sudah luar biasa, ekspresinya pun gak main-main, asli dah bikin merinding!
Wrote by Fadhlillah Hidayat

Allah itu maha baik, asli deh.

Ketika kita sedang berada dalam posisi terburuk, Dia memberikan jalan dan kesempatan untuk kita. Terlepas dari berhasil atau tidaknya, itu semua tergantung dengan usaha kita.

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا . إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
(QS Al Insyirah: 5-6)

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
(QS Ar Ra'd: 11)


Hari kamis, hari dimana dalam beberapa waktunya menyempatkan diri membuka media sosial seperti Facebook dan Instagram, which is disitu ada relasi sama temen-temen kampus. Pas lagi buka FB, muncul postingan dari Sule yang memperlihatkan kegiatan magangnya di TVRI, ada Kadafi juga disitu. Dalem hati mah "Wah kampret nih Kadafi, padahal awalnya dia ngajak gua nyari tempat magang bareng, eh dia malah dapet duluan".

Inget Kadafi jadi inget juga pas dia ngasih kabar kalau dia dapet tempat magang. Saat itu saya lagi di MRT menuju ke Lebak Bulus, karena baru pulang dari Aksi Mahasiswa 24 September. Dia ngasih tau via WhatsApp kalau dia dapet tempat magang sekaligus minta maaf karena gak jadi bareng saya. Hmm, agak menyebalkan dan bikin kesel juga sih sebenernya. Tapi ya mau gimana lagi kan... Dia ngerasa gak enakan gitu ke saya, jadinya dia juga mau minta tolong temen kelompoknya supaya saya bisa ikut gabung. Takdir berkata lain, kelompok mereka udah jumlah yang pas dan gak bisa ditambah lagi, soalnya dari TVRI nya juga katanya lagi gak terlalu butuh banyak anak magang karena tenaga kerjanya masih memadai. Sekali lagi, yah apa boleh buat.

Setelah liat foto yang di upload sama Sule tadi, rasanya bikin iri, pengen ngelakuin juga. Hufttt

Beberapa waktu berlalu, isenglah buka Instastory. Eh ngeliat story dari Sule lagi tentang hal yang sama, bikin gregetannnn. Bukan cuma dia doang, ada lagi yang bikin snapgram mengenai magang, yaitu Marjan dengan Baznas-nya, dan Rifa dengan ANTV-nya. Huhuhu galaunya hatiku ini :"

Masih berada di hari kamis, siangnya ada matkul yang sebenernya gak membosankan, tapi kebetulan lagi ngerasa bosen. Yaudah jadinya iseng buka hp, mainin yang entah mainin apa, cuma ngeliat medsos yang gitu-gitu aja. Sampai akhirnya ada chat WhatsApp masuk dari nomor yang gak dikenal. Sebelum ngebuka isi chatnya, saya merhatiin dulu kalimat awal yang muncul tuh, dan tulisannya "Dear candidate, ..."

Deg deg... Deg deg...
Seketika langsung deg-degan, detak jantung berdegup kencang


Sumpah deh dapet info itu jadi bikin gak konsen belajar, semua penjelasan dari dosen jadi sekedar angin lalu doang karena kesulitan buat fokus. "Ya Allah gimana ini, gimana gimana gimanaaaaa", dalam hati selalu mempertanyakan keajaiban ini, juga mensyukurinya. Karena udah dikasih kesempatan ini, mau gak mau harus segera konfirmasi ke beliau -saat ini manggilnya beliau dulu- supaya dari pihak HRD juga mendapat kepastian dari saya.

Terkadang ketika saya lagi buka hp di kelas, saya cek lagi chat WhatsAppnya karena masih gak nyangka gitu wkwkwk. Daripada cuma bolak-balik ngeliat pesannya, mending sekalian aja simpen kontaknya. Akhirnya bermodalkan dengan info yang terlihat di infonya, saya melihat display namenya dan juga fotonya.

Maaciw Ayunan!

Oiya belum ngejelasin gimana ceritanya bisa dapet panggilan ini. Sebelumnya mau ngucapin big thanks buat Ayuni, rekan se-Perdekdok-an saya selama KKN karena telah menyebarkan informasi Internship Development Program ini ke grup, akhirnya dari info yang di dapet itu, saya bergegas buat mendaftarkan diri ke link yang tertera. Setelah mengisi data dari tahap awal sampai tahap akhir, saya finalisasi semuanya dan menunggu kabar dari pihak perusahaan. Perlu waktu selama 3 minggu untuk mendapat panggilan ini.


Kira-kira alur waktunya seperti ini:

Daftar: 30 September 2019
Panggilan Interview: 17 Oktober 2019
Interview: 18 Oktober 2019

Setelah mendapat informasi ini, pastinya otomatis bakal mempersiapkan hal ini dong. Malamnya saya langsung memperbaiki CV saya dan ternyata itu membutuhkan waktu yang lama karena Photoshopnya bermasalah. Setelah ngurusin CV, akhirnya langsung browsing mengenai tips-tips interview gitu supaya ada gambaran ketika nanti saya yang di interview.

Next, the interview day


Jum'at pagi yang berkah ini seharusnya menjadi pagi yang berkah untukku, tapi entah mengapa hari ini jadi hari yang penuh kecolongan. Banyak hal-hal yang terjadi diluar ekspetasi, diluar persiapan.

Niatnya mau berangkat jam setengah 10 karena diminta hadirnya jam 11, setidaknya perkiraan saya bisa standby disana jam setengah 11 berdasarkan pengamatan saya yang terkadang ke Jakarta. Kenyataannya jam setengah 9 itu saya baru sarapan sambil nonton lagi tips interview di YouTube, dan baru berangkat sekitar jam 9.45. Dari awal niatnya mau ngeprint out CV sekalian berangkat, jadi ngeprint di jalan gitu, dan memang terjadi sih. Tapi, ternyata cukup memakan waktu juga saat ngeprint gara-gara operatornya lagi ngurusin klien yang lain. Pokoknya setelah itu langsung berangkat lagi dan dijalannya cukup ngebut sih. Dan kendalanya lagi, belum sempet ngisi bensin, jadi di pertengahan jalan harus ngisi bensin dulu. Gak cuma sampe situ aja, kendalanya lagi yaitu ketika ngecek saku-saku yang ada di pakaian dan dompet, ternyata cuma megang uang goceng doang hasil kembalian ngeprint, selain itu gak ada uang cash lagi :(

Emang sih ya, yang namanya Fadly itu selalu teledor kalau masalah uang. Jarang mikirin uang, sekalinya nyari uang malah gak tau dimana. Uangnya belum dipindahin dari tas yang kecil. Dasar aku

Akhirnya yaudah mau gak mau ngisi bensinnya yang goceng. Karena ngisi bensin perlu ngantri, jadi makan waktu juga, makin telat dah. Auto ngebut lagi, tapi di beberapa titik malah macet. Ahsudahlah pokoknya sampe sananya telat 20 menit. Kan kecolongan.

Awalnya saya berpikir kalau interview ini bakal dilaksanain secara empat mata gitu, ternyata bareng-bareng sama kandidat lain walaupun ditanyainnya bergantian gitu. Ya maklumlah ya, ini pertama kalinya ngerasain interview, setidaknya ini jadi pengalaman baru walaupun tidak semulus paha artis korea.

Disana, tentunya saya melihat wajah yang tidak asing, yaitu orang yang menghubungi saya untuk interview, saya bisa tau karena saya melihat DP WhatsAppnya. Dan ternyata orangnya itu yang cewek. Asli dah malu abis, soalnya nyimpen kontaknya itu dengan panggilan 'Pak' karena saya pikir orangnya itu yang cowok. Abis gimana ya, dari namanya itu gak bisa ditebak cewek atau cowoknya. Dan DPnya juga foto sebuah pasangan, jadi fokusnya berfikir kalau ini orangnya yang cowok. Bukan cuma itu aja, pas dijelasin sama HRDnya ternyata dia juga anak magang di bidang HR yang masih semester 5. Duh ngapain bilang 'Pak' yaa, kesannya jadi ketuaan gitu. Semua terpatahkan ketika ngeliat langsung wkwkwk..

Interview sudah dimulai sebelum saya hadir, disana saya dan kandidat lain ditanyain satu persatu, dan saya yang ditanyainnya hampir terakhir, karena ada juga yang telatnya barengan sama saya, untung ada temen telat.

Patut diakui kalau kandidat lainnya juga berkompeten dan berpotensi bisa diterima magang disana, dan itu malah membuat saya menjadi dilema. Apalagi, disaat wawancara itu saya benar-benar merasa kecolongan oleh rasa gugup, semua yang sudah saya siapkan sebelumnya jadi blank seketika. Saat itu cuma bener-bener sekedar ngejawab pertanyaan dari HRD nya aja, tanpa menyampaikan kompetensi yang saya punya, padahal itu sangat penting untuk perusahaan tau, apalagi saya yang jelas-jelas sangat relevan dengan jurusan kuliah saya yang sama-sama di bidang Broadcasting. Tapi itu semua tidak tersampaikan, dan menjawabnya juga dengan kalimat yang berantakan. Asli dah itu sangat mengecewakan banget buat saya pribadi.

Akhirnya, sebelum saya meninggalkan gedung itu, saya harus mencari ATM dulu untuk menarik uang, karena kan gak punya pegangan uang cash lagi, padahal cuma buat bayar parkir yang dua ribu perak doang wkwkwk. Si mbak penjaga parkirannya sampe harus nukerin uang dulu ke temennya karena gak ada kembalian. Setidaknya itu ada hiburan dikit (gak mengibur juga sih sebenernya) dikala galau abis interview yang ambyar ini.

_____________________

Saat cerita ini ditulis, saya sedang merasa dilema banget karena nunggu hasil interview. Masih berharap ada kesempatan untuk diterima. Do'ain yaa!

Wrote by Fadhlillah Hidayat


Akhir-akhir ini, saya sedang ada di fase dimana rasanya saya merasa iri. Yah, you know lah kalau bagi mahasiswa tahun ketiga itu saat-saat kayak gini udah waktunya mengimplementasikan ilmunya ke dalam pekerjaan, alias magang. Ngeliat temen-temen lain yang udah dapet tempat magang itu rasanya iri dan ngerasa penuh tekanan di hidup ini, bukan cuma tekanan dari lingkungan kampus, tetapi juga dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Karena ngerasa malu disaat umur udah berkepala dua tapi masih gabut-gabut aja. Mending deh kalau gabutnya berpenghasilan, lah ini kan kagak.

Sebenernya ada pemikiran untuk mencari tempat magang atau nyari part-time itu udah ada dari tahun sebelumnya. Nyari part-time disaat kuliah untuk sekedar uang jajan, juga mencari tempat magang di saat liburan semester untuk menambah pengalaman. Saat itu lagi terobsesi untuk magang di NET dan sudah mengapply kesana, namun panggilan masih belum terbalaskan. Untungnya, tahun lalu itu magang belum menjadi kewajiban mahasiswa, karena magang profesi diwajibkan ketika memasuki semester 7, semester dimana saya sedang dilema ini.

Kembali ke masa sekarang, masa yang membuatku iri. Iri karena teman-teman yang lain udah ada yang mendapat tempat magang dan udah ada yang mulai. Saya belum mendapat tempat magang bukan karena saya malas atau tidak mencarinya, berbagai apply sudah saya kirimkan ke perusahaan-perusahaan yang membuka internship kok. Saya juga memahami bahwa usaha adalah bagian terpenting untuk mencapai sesuatu.

Semenjak saya memikirkan magang ini, saya menjadi aktif untuk memfollow akun-akun yang memposting lowongan kerja dan magang dan mengikuti perkembangan informasinya. Selain itu, saya juga sering membuka email dengan harapan ada respon dari perusahaan. Saya juga jadi sering membuka LinkedIn walaupun hanya sekedar melihat profil, memperbaharui profil, dan mencari koneksi. Kalibrr pun tidak lupa saya cek untuk mencari perusahaan yang membuka internship program.

Ketika saya mengecek email, saya menemukan satu respon dari perusahaan yang membuat saya terkejut, yaitu CV saya telah di review. Dan di email tersebut, HR memberi pertanyaan lebih lanjut untuk lebih meyakinkan kandidatnya. Jantung saya berdetak lebih cepat sangking kagetnya dapet email ini. Tapi... Melihat pertanyaan yang dikasih, ada satu pertanyaan yang memang membuat saya kesulitan untuk menjawabnya, yaitu masalah waktu.

Sejujurnya cukup mengecewakan disaat pihak kampus atau jurusan memberikan magang wajib tetapi masih ada mata kuliah yang harus diambil, hal itu membuat para mahasiswa harus ekstra membagi waktunya antara kuliah dan magang. Padahal magang memang biasanya akan mengambil semua waktu kerja layaknya kita berkerja secara normal, dan harusnya disaat seperti mata kuliah harus di kosongkan atau benar-benar di minimalisir. Entah emang pihak kampus yang bisa saya salahkan atau saya yang salah karena tidak bisa mengatur waktu kuliah dengan baik, sedangkan teman-teman saya yang lain bisa mengatur itu dan menemukan tempat magang. Saya hanya bisa melempar kesalahan alih-alih menghindari kesalahan saya sendiri.

Pertanyaan mengenai waktu ini sulit dijawab, namun harus dijawab dengan sejujur-jujurnya, karena pasti akan berpengaruh besar seandainya saya menjawab dengan manipulasi yang menyatakan kalau waktu saya free untuk melakukan magang. Bisa-bisa ketika keterima nanti, konsekuensinya adalah mengorbankan semua kuliah yang udah saya jalankan. Karena ya perusahaan pasti udah meminta kewajiban peserta magang untuk mengabdikan waktunya berdasarkan dari jawaban yang udah kita sampaikan.

Akhirnya, saya menyampaikan bahwa saya memiliki kendala mengenai waktunya. Saya juga berusaha melobby supaya bisa memberi toleransi untuk izin disaat jam kuliah, lalu ketika jam kuliah selesai, kembali lagi ke perusahaan untuk melanjutkan magang. Tapi sayangnya, perusahaan benar-benar mencari kandidat yang bisa menyediakan waktunya secara full. Yah, apa boleh buat.

"Emang kandidat di perusahaan ini cuma L doang gitu?" - isi hati HR 2019

Sepertinya di kesempatan lain, saya akan mencoba apply kembali ke perusahaan itu, karena emang itu perusahaan cukup menarik sih, hehehe..

Wrote by Fadhlillah Hidayat
KKN ICONIC 60 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Berbeda dengan cerita KKN di Desa Penari yang menceritakan kisah KKN yang horror, kali ini saya akan menceritakan KKN di Desa Pabangbon, desa dimana saya melakukan pengabdian selama satu bulan dengan kisah yang unik dan menyenangkan. Selamat membaca!
Wrote by Fadhlillah Hidayat

Sejauh ini, banyak masyarakat yang hanya berfokus pada tokoh utama dalam pemilu, yaitu menentukan sosok Presiden dan Wakil Presiden RI 5 tahun kedepan. Saling menghina antar cebong dan kampret dengan berbagai bentuk dan berbagai cara untuk membenarkan junjungannya.

Tapi, mereka lupa (termasuk saya) bahwa selain menentukan pemimpin bangsa, kita juga harus menentukan orang-orang yang akan mewakili kita sebagai rakyat di kursi pemerintahan nanti. Orang-orang ini juga yang akan menentukan akan seperti apa nasib rakyatnya melalui kebijakan-kebijakan yang akan mereka sampaikan dalam forum/musyawarah. Maka dari itu, memilih caleg pun juga suatu hal yang penting untuk kita.

Hal yang sangat disayangkan yaitu masyarakat masih ada (sebagian) yang apatis atau kurang peduli untuk memilih caleg. Mungkin ada beberapa faktor penyebabnya (just my opinion), diantaranya:

Jumlah calon anggota legislatif yang terlalu banyak
Banyak nama-nama yang mencalonkan diri menjadi bagian dari anggota legislatif. Secara kesuluruhan, berdasarkan data yang saya temukan di jariungu.com , ada sekitar 250 ribu lebih calon legislatif yang tersebar di seluruh Indonesia pada pemilu 2019 ini.

Untuk regional saya yaitu di Kota Depok, jumlah caleg yang tersedia:
  1. Caleg DPR RI Dapil Jawa Barat 6 (Depok & Bekasi), terdapat 92 orang
  2. Caleg DPD RI Prov. Jawa Barat, terdapat 50 orang
  3. Caleg DPRD Jawa Barat Dapil 8 (Depok & Bekasi), terdapat 156 orang, dan
  4. Caleg DPRD Kota Depok Dapil 2 (Cilodong & Tapos), terdapat 142 orang

Sumber: jariungu.com

Dari segini banyaknya manusia, sangat sulit untuk mencari tau semua latar belakangnya satu persatu.

Minimnya informasi caleg
Kita perlu mengetahui info masing-masing caleg untuk memastikan apa yang kita pilih itu yang terbaik. Tapi dimana kita bisa mendapatkan info tersebut? Biasanya ada berbagai cara, diantaranya melalui baliho/spanduk, iklan, atau caleg itu sendiri yang bersosialisasi langsung kepada kita secara door to door untuk mempromosikan dirinya, atau kita yang searching tentang caleg tersebut.

Ada beberapa situs yang memfasilitasi informasi tentang semua caleg, misalnya:
  1. Situs KPU (https://infopemilu.kpu.go.id/), 
  2. Pintar Memilih (https://pintarmemilih.id/),
  3. CalegPedia (https://calegpedia.id/), dan
  4. Jari Ungu (https://jariungu.com/)

Walaupun situs-situs tersebut mencakup semua data caleg, masih ada kekurangan dimana banyak yang tidak ada informasi yang mendukung untuk mencari latar belakangnya. Hal itu juga dikarenakan caleg itu sendiri yang tidak memberikan datanya, entah gak tau ada situs kayak gini atau gimana, idk.

Malesnya mengakses informasi caleg
Karena melihat banyaknya jumlah calon dan minimnya informasi, dampaknya masyarakat merasa hilang ketertarikan untuk mencari tau dan mengakses info para caleg.

***


Saya berpendapat seperti ini karena inilah yang saya rasakan ketika mencari Informasi caleg tersebut. Berdasarkan pengalaman saya, kemarin sore saya iseng buka website Jari Ungu di Komputer yang ada di Perpustakaan Utama UIN Jakarta untuk mencari tau para caleg, dengan harapan bisa menemukan siapa kandidat caleg yang berpotensi untuk saya pilih.



Setelah saya cek, masyaallah bikin pusing mata karena ngeliat banyaknya caleg. Hanya sekitar 30-40 menit untuk sanggup mengakses website tersebut, dan masih banyak yang terlewatkan.

Kalau begini caranya, pasti nanti lebih banyak masyarakat yang hanya akan memilih partainya dibanding calegnya. Sisanya adalah orang-orang yang yakin dengan salah satu caleg, yang kenal dengan caleg, yang punya ikatan kekerabatan sama si caleg, dan yang milih random. Ketika banyak yang hanya memilih partai, dikhawatirkan apabila nama partai yang mendasari masyarakat memilih caleg, nantinya anggota-anggota legislatif yang menjabat hanya karena berada di kubu partai itu saja dan bukan karena kredibilitas anggota itu sendiri.

Beberapa artis yang turun di caleg Dapil Jawa Barat VI. Berkualitaskah?

Untuk mendulang suara partai, maka banyak alat yang digunakan masing-masing partai agar bisa memenagkan kursi pemerintahan, salah satu yang bisa jadi vote getter adalah tokoh public figure yang biasa kita liat di TV atau media lainnya. Artis-artis seperti ini dipercaya menjadi alat memperoleh suara rakyat, karena masyarakat kita ini selalu dekat dengan TV dan menyaksikan caleg dari barisan artis tersebut, jadi merasa kenal dan perlu didukung, terlepas dari kualitasnya sebagai politikus yang wallahu a'lam.

Bahaya banget kalau nih orang kepilih, nanti banyak dramanya wkwkwk

Setelah masa kampanye berlalu, saya merasa bahwa berkampanye melalui baliho, banner, atau iklan itu bisa berpengaruh untuk kita. Semakin banyak atribut yang tersebar, semakin bikin kita terngiang-ngiang di kepala. Jadi inget kalau saya selalu diteror oleh baliho raksasanya Davin Kirana, iklan cringe-nya PSI, poster Lucky Hakim di setiap tiang listrik, banner Farabi el Fouz yang ganteng, dan banyak nama-nama lainnya yang tersebar selama kampanye. Ini bisa mempersempit pilihan kita untuk lebih menyaring caleg-caleg.

__________

Terimakasih sudah membaca, tolong maklumi kalau banyak yang masih kurang antusias sama pilegnya, tolong maklumi juga kalau tulisan saya masih banyak kekurangannya, semoga bisa bermanfaat 😇


Wrote by Fadhlillah Hidayat

Baru-baru ini lagi viral video ekslusif Ustadz Abdul Somad yang ngobrol bersama salah satu capres, Prabowo Subianto. Apa isi percakapannya? Kalau dilihat dari inti percakapannya, mungkin bisa dibilang bahwa itu adalah sebuah 'deklarasi' dukungan terhadap paslon nomor 2.


UAS menceritakan kisah pribadinya yang selama berdakwah di berbagai tempat, jama'ahnya selalu mengumandangkan hal-hal yang mengarah kepada Prabowo-Sandi. Ditambah lagi, UAS mendapat cerita dari beberapa ustadz lokal (gak masyhur/terkenal) bahwa Prabowo ada di dalam mimpinya. Bukan sekali-dua kali, namun lima kali. Selengkapnya bisa di cek videonya yaa..



Setelah video itu tersebar luas, bagaimana dampaknya? Kita semua tau bahwa UAS adalah salah satu tokoh ustadz yang sangat terkenal di Indonesia, dan memiliki pengaruh yang besar. Dengan adanya ungkapan dari UAS mengenai politik ini, bukan hal yang tidak mungkin jama'ahnya akan mengikuti jejak UAS untuk memilih Prabowo, juga bukan hal yang tidak mungkin untuk meninggalkan UAS karena berbeda pilihan. Mungkin kalau di klasifikasikan akan terbagi menjadi 3 jenis, yaitu:

1. Mengikuti jejak UAS dalam memilih
Sudah sewajarnya jika jama'ah mentaati dan mengikuti arahan dari sang guru/ustadz, karena seorang guru pasti selalu berusaha menyampaikan segala hal yang baik. Selain itu, para jama'ah yakin bahwa menuruti apa yang diyakini oleh gurunya akan memberikan berkah dan manfaat terhadap dirinya. Hal ini bisa berdampak besar kepada masyarakat yang masih belum menentukan pilihannya (swing voter), juga mempengaruhi seseorang yang sebelumnya mendukung lawan.

2. Meninggalkan UAS karena dianggap tidak netral lagi
Dengan masuknya UAS ke dalam ranah politik (walau hanya sekedar berbicara dengan Prabowo ini), sebagian jama'ah juga pasti ada yang merasa kecewa karena kapasitas UAS sebagai da'i (pendakwah) sudah tidak netral lagi. Mereka yang kecewa tersebut berpikirnya bahwa cukuplah UAS fokus untuk berdakwah ke semua umat di Indonesia, jangan dicampur adukkan dengan politik. Karena sejauh ini, isi dakwah beliau hampir tidak pernah menyentuh isu politik (khususnya pemilu di Indonesia) dan hanya membahas perkara-perkara Islam saja. Maka, ada juga yang akhirnya meninggalkan UAS dan (mungkin) mencari ustadz lain yang lebih cocok untuknya.

3. Tetap bersama UAS apapun pilihannya
Ada juga jama'ah yang tetap bersama UAS walaupun ia dan gurunya berbeda pilihan. Karena mereka merasa bahwa dalam memilih itu adalah hak setiap orang dan bukan menjadi alasan untuk meninggalkan UAS. Jama'ah yang seperti ini mungkin lebih mengharapkan ilmu yang diberikan oleh UAS.

Dokumentasi ketika saya hadir bertemu dengan Ustadz Abdul Somad

Mungkin ada keempat, kelima, dan seterusnya. Itu silahkan kalian beropini, sekiranya ada jenis yang lainnya, itu memberi cara pandang yang berbeda dan saling melengkapi. Karena tiga jenis yang saya tulis ini hanya berdasarkan pengamatan saya yang saya temukan dari berbagai platform media sosial, entah itu komentar di youtube, facebook, maupun instagram.

Apa alasan UAS mengungkapkan dukungannya tersebut? Berdasarkan video ekslusif tersebut, sudah menjelaskan bahwa ia yang awalnya merasa ragu, setelah melihat keadaan umat dan mendengar cerita ustadz lainnya, akhirnya UAS merasa yakin seperti yang saya tulis diatas. Setelah itu, UAS juga berpesan kepada presiden terpilih nanti (melalui Prabowo) supaya tidak mengundang beliau ke istana, dan beliau tidak mau diberi jabatan. Ini hal yang cukup menarik, karena beliau gak mau apa yang selama ini orang-orang mau. Ada yang menjelaskan seperti ini:

Sumber: Internet (dimana-mana ada, tak ada sumber yang spesifik)

Saya kurang memahami tafsir tersebut, tapi setelah mendapat penjelasan ini, saya merasa bahwa pesan yang disampaikan oleh UAS ini sangat bermakna. Karena memang sudah sewajarnya Ulama itu didatangi, bukan mendatangi. Ulama bukan ditempatkan sebagai bawahan (yang disimbolkan dengan jabatan), karena Ulama-lah yang akan menjadi salah satu penasihat untuk kebaikan negeri.

Selain itu semua, kalau kita lihat dari sisi psikologisnya, menurut saya (dan mungkin sebagian orang) UAS merasa harus memberikan harapannya kepada Prabowo atas apa yang ia rasakan selama berdakwah. Karena yang kita tau, gak semua aktivitas safari dakwah yang dilakukan oleh UAS itu berjalan mulus, terkadang beliau juga sering mendapat rintangan dan penolakan. Contohnya ketika ingin berdakwah di Bali, beliau ditolak oleh oknum warga setempat karena dianggap anti Pancasila, setiap ingin berdakwah diminta untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya untuk bisa menjamin bahwa UAS ini memang nasionalis. Padahal nyatanya sosok UAS ini memang taat kepada ideologi Pancasila bahkan tanpa harus diminta ini itu yang meribetkan. Tidak hanya di Bali saja, beliau juga terkadang mendapat penolakan di berbagai tempat.

Dari kejadian-kejadian tersebut, UAS merasa heran terhadap pemerintah karena tidak melakukan apa-apa dan terkesan membiarkan begitu saja, padahal dengan kejadian tersebut sebenarnya membuat perpecahan antar bangsa. Bahkan di keadaan tersebut, malah jadi terpecah, "Kami Indonesia, Kami Pancasila. Umat Islam anti Pancasila!". Padahal seharusnya pemerintah bisa meredamkan keadaan seperti ini untuk menyatukan bangsa yang bersaudara setanah air.

UAS akhirnya menaruh harapan kepada Prabowo supaya beliau dan aktivis dakwah lainnya bisa menjalankan tugasnya untuk berdakwah dengan aman, tenang, dan tentram, membuat Indonesia bersatu kembali. Tapi, siapapun nanti yang akan terpilih, saya berharap supaya bisa menjalankan amanah UAS ini dengan baik, juga amanah terhadap rakyat Indonesia tentunya. Terimakasih 🙏


Wrote by Fadhlillah Hidayat
Alhamdulillah saya diundang untuk menjadi moderator debat capres pertama ini, WKWKWK


Disclaimer:
Hasil review ini merupakan salah satu tugas kuliah saya pada matkul Komunikasi Politik yang diampu oleh Pak Gun Gun Heryanto, M.Si. Saya pikir, daripada tulisan itu hanya menjadi sekedar tugas saja, rasanya masih kurang bermanfaat karena sudah pasti beliau sebagai dosen tau isi dari tugas tersebut, sedangkan yang membutuhkan informasi ini adalah khalayak umum. Maka dari itu, saya berkeinginan untuk mempublikasikan tugas saya melalui blog ini, semoga bisa menjadi manfaat. Aamiin yaa Allah

Oh iya, review yang saya buat ini berdasarkan hasil review dosen saya sendiri, yaitu Pak Gun Gun yang dimuat dalam beberapa portal berita (Republika dan Media Indonesia). Jadi ini adalah ngereview hasil review yang di review oleh beliau 😅

Untuk melihat hasil review aslinya, temen-temen bisa cek link dibawah ini:

  1. Debat Pertama: Evaluasi Debat Capres Perdana
  2. Debat Kedua: Makna Debat Kedua
  3. Debat Ketiga: Peneguhan Narasi Calon Wakil Presiden
  4. Debat Keempat: Strategi Memikat Debat Keempat

(Review Debat Capres-Cawapres ini hanya sampai Debat Keempat, karena hingga tugas ini dibuat, belum terjadi/ belum jadwalnya debat kelima)

Satu lagi, kalau nanti melihat isi review saya agak ngawur atau terkesan seperti merangkum, mohon maaf dan semoga memaklumi yaa... Soalnya ngerjainnya juga kejar tayang wkwkwk

Selamat membaca!

_____________________________________


REVIEW DEBAT 1-4 CAPRES-CAWAPRES RI 2019 
DARI HASIL REVIEW PAK GUN GUN HERYANTO

DEBAT PERDANA, 17 JANUARI 2019
Debat Perdana ini menjadi gerbang pembuka kepada masyarakat untuk melihat diskusi antar paslon dan mengetahui visi misi masing-masing. Banyak respon yang diterima, baik itu pujian maupun kritikan, atau bahkan cacian. Memuji yang didukung dan mencaci pesaing dukungannya.

Orang-orang yang masih belum menentukan pilihannya atau swing voter membutuhkan adanya debat ini supaya bisa mendengar penjelasannya, juga membandingkan satu dengan yang lainnya. Inilah tugas yang harus dilakukan oleh kedua paslon untuk bisa mengambil hati masyarakat, karena debat menjadi bagian dari komunikasi persuasive yang dapat memengaruhi lingkungan politik.

Dari teori tindakan beralasan (Reasoned Action Theory) yang disampaikan oleh Pak Gun Gun, kita bisa tahu bahwa intensi atau niat melakukan dan tidak melakukan perilaku tertentu dipengaruhi oleh dua penentu dasar, yaitu berhubungan dengan sikap dan dengan pengaruh sosial, yaitu norma subjektif. Norma subjektif ini membuat masyarakat (khususnya yang fanatik) merasa bahwa yang didukungnya lebih benar, lebih unggul, dan ketika paslon nya melakukan kesalahan pasti akan mencari kebenaran hingga sesuai dengan apa yang diinginkannya dan yang dianggapnya benar. Resonansi informasi di berbagai media massa dan media sosial bisa menentukan siapa yang mengontrol narasi.

Peran media menurut Gaye Tuchman (1980) dapat menyusun realitas hingga membuat ‘cerita’. Karena bisa mengarahkan ke suatu narasi, banyak masyarakat yang membuat berbagai opini menurut cerita yang diinginkannya, dan pertarungan opini ini menjadi kekhawatiran pasca-debat yang perlu diwaspadai.

Sebelum forum debat capres perdana ini dilaksanakan, banyak informasi beredar yang mengatakan bahwa pada debat ini pihak KPU memberi kisi-kisi soal untuk pembahasan debat nanti. Ini merupakan model pertanyaan terbuka yang terjadi pada debat pertama, disusun melalui kisi-kisi 20 pertanyaan. Berdasarkan pengamatan Pak Gun Gun selaku pakar politik, ketika para paslon mengetahui pertanyaan terlebih dahulu, akan menciptakan mental blocking dan menjadi tidak lepas dalam menjawab. Hanya terfokus pada catatan-catatan yang dibawa, dan di sisi lain ada yang terdorong untuk fokus untuk mengingat bahan-bahan yang mau disampaikan.

Pada debat pertama ini, ada beberapa tema yang akan didebatkan, yaitu mengenai hukum, HAM, pemberatasan korupsi, dan terorisme. Substansi pesan pada perdebatannya kurang pragmatis, juga kurang proporsionalnya ulasan tentang HAM. Belum terlihat ada keinginan dari kedua belah pihak untuk menuntaskan kasus-kasus besar HAM. 

Manajemen forum debat menjadi salah satu yang juga perlu dievaluasi, pembagian ruang dalam berbicara tidak proporsional, dapat dilihat ketika Pak Jokowi lebih tampil dominan dibanding Pak KH Ma’ruf Amin. Kurangnya manajemen forum ini juga dapat dilihat ketika Pak Prabowo sering overtime.

DEBAT KEDUA, 17 FEBRUARI 2019
Debat kedua ini akan menjadi panggung antar capres, yaitu Pak Jokowi dari paslon 01 dan Pak Prabowo dari paslon 02. Panggung ini dapat dioptimalkan untuk meningkatkan opini positif pada dirinya dan meggoyahkan kepercayaan pemilih kepada pihak lawan. Debat kali ini pun tidak seperti debat sebelumnya yang menggunakan kisi-kisi, jadi ini membuat kesempatan bagi kedua capres untuk menyampaikan paradigma berpikir, orientasi persoalan, data penunjang, logika berpikir, sekaligus prioritas program untuk mengurangi masalah.

Kedua pihak mempunyai pendekatan yang berbeda, dimana Pak Jokowi bisa secara leluasa memaksimalkan elaborasi data dan program andalan pemerintah yang dia pimpin, sedangkan Pak Prabowo harus masuk menantang landasan paradigmatis pembangunan ala Jokowi yang selama ini kerap dikritiknya. Dan yang disayangkan, Pak Prabowo masih kurang optimal dalam memberikan solusi terhadap apa yang ia kritik, dan memberikan alternatif kebijakan untuk lima tahun kedepan. 

Khalayak bisa menikmati sajian narasi jika debat berlangsung interaktif dan menyentuh substansi atau emosi yang diharapkan. Atau, sebaliknya bosan karena tampilan para capres menjemukan. Dalam konteks situasi seperti itu, penting manajemen opini publik terutama dalam strategi membangun koorientasi pada khalayak. Koorientasi terjadi saat dua orang atau lebih yang tadinya baru mengenal atau berada di fase orientasi, akhirnya bersepakat dengan isu, gagasan, program, atau kebijakan yang ditawarkan. Seseorang yang mampu tampil prima dalam mengontrol narasi, dialah yang berpotensi memenangi pertarungan opini. Saat debat, para kandidat perlu mematangkan data dan menguatkan logika. Namun, manajemen opini setelahnya juga sangat diperlukan agar narasi tidak mengalami distorsi.

DEBAT KETIGA, 17 MARET 2019
Debat ketiga yang dilakukan oleh kedua cawapres ini membahas isu pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, serta sosial dan kebudayaan. Hal ini menjadi momentum orientasi pemilih karena isu-isu ini lebih sering melekat dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Debat cawapres menjadi panggung pembuktian untuk memastikan bahwa capres bukan sekadar penggembira atau pelengkap semata.

Masyarakat punya ketertarikan yang tinggi terhadap debat cawapres ini karena masyarakat penasaran dan ingin tau bagaimana peran cawapres dalam mengatasi masalah-masalah ini. Sosok Pak Joko Widodo dan Pak Prabowo Subianto, sebagian besar publik sudah memiliki referensi terhadap mereka sejak pemilu 2014 lalu. Perjumpaan Pak KH Ma’ruf Amin vs Pak Sandiaga Uno di panggung debat kali pertama inilah yang menjadi fase orientasi rakyat Indonesia terutama pemilih secara lebih komprehensif atas gagasan, program, peran, dan prospek leadership mereka jika terpilih sebagai cawapres.

Proses orientasi menekan pada tiga indikator, yakni kemenonjolan (salience), relevansi (partinance), dan predisposisi atau preferensi. Kemenonjolan perasaan tentang pasangan kandidat yang berasal dari pengalaman pemilih di situasi sebelumnya. Pak KH Ma’ruf Amin menonjolkan isu penting di berbagai bidang, bidang kesehatan dengan Jaminan Kesehatan Nasional dan Program Keluarga Harapan, bidang pendidikan dengan Kartu Indonesia Pintar, dan bidang-bidang lainnya. Sementara itu, Pak Sandiaga Uno berkali-kali meneguhkan kata-kata kunci yang kerap diulang di beberapa segmen, antara lain, di bidang kesehatan dalam 200 hari masa kerja Prabowo-Sandi jika terpilih akan menyelesaikan masalah tata kelola BPJS, di bidang pendidikan, Sandi menekankan pada pembangunan ekosistem riset, dan bidang-bidang lainnya.

Nilai relatif dari pasangan berdasarkan perbandingan posisi (penantang dan petahana), juga perbedaan gaya serta cara mereka yang terbangun sejak lama. Pak KH Ma’ruf Amin meski saat ini bukan wakil presiden, tetapi melengkapi paket tiket Jokowi yang menjadi petahana. Maka sangatlah wajar, jika tadi malam banyak memberi narasi peneguhan tentang implementasi, cerita sukses, apresiasi dari apa yang sudah dilakukan Jokowi. Sebagai penantang, Pak Sandiaga Uno tampak sekali ada hambatan psikologis dalam proses mengembangkan relasi kuasa sebagai pendebat dari pihak penantang. Hal ini bisa jadi disebabkan strategi untuk bermain lebih santun, lebih memberi sentuhan afeksi, serta seni beretorika yang tidak verbal agresif. Mengingat posisi KH Ma’ruf Amin sebagai senior, ulama, dan tokoh dari organisasi Islam paling besar di Indonesia, yakni NU.

Preferensi menyangkut kerangka referensi evaluatif (kepentingan dan nilai), kognisi pemilih, afeksi dan niat perilaku. Dalam konteks debat cawapres, sesungguhnya tidak akan mengubah banyak perubahan pilihan di masyarakat.

Kondisi debat di panggung berjalan cukup membosankan dan monoton, tidak ditemukan hal baru yang menjadi ketertarikan. Pak Sandiaga Uno yang berposisi menjadi penantang, sepertinya mengembangkan strategi aman dengan tidak mengambil cara verbal agresif. 

DEBAT KEEMPAT, 30 MARET 2019
Debat keempat ini kembali dibawakan oleh kandidat capres, yaitu Pak Jokowi dan Pak Prabowo membahas tema ideologi, pemerintahan, pertahanan dan keamanan, serta hubungan internasional. Dilihat dari gaya komunikasinya, Pak Prabowo tampak berupaya sekali menjaga ritme dalam berkomunikasi. Diksi-diksi yang diproduksi dalam membungkus narasi banyak yang diperhalus dan mengedepankan sisi lain Prabowo yang lebih humanis. Sementara itu, Jokowi, di debat perdana dan kedua banyak mengambil inisiatif membuka dialektika, mengajukan pertanyaan menohok, dan jawaban yang membuat suasana terutama di debat kedua cukup menghangat.

Mereka berdua kembali ke gaya masing-masing dan berupaya tampil maksimal sesuai dengan karakternya. Pak Jokowi tampak berusaha menampilkan penghormatan pada lawan, meskipun diserang sejak segmen pembukaan lewat pernyataan Pak Prabowo soal praktik jual-beli jabatan di pemerintahannya. Bahkan, saat segmen empat dan lima pun Pak Jokowi tampak mengontrol dirinya untuk tidak asertif. Intonasi suara yang cenderung datar dan stabil, gestur cukup rileks, reaksi atas serangan Pak Prabowo juga tampak tidak berlebihan.

Sementara itu, Pak Prabowo tampak berapi-api, memaksimalkan serangan, dan berupaya all out dengan gaya aslinya, yakni dinamis (dynamic style). Gaya ini bersifat agresif, asertif, bicara blakblakan, dan cenderung sangat berorientasi pada hasil akhir.

Dalam banyak hal, gaya itu juga sering menggunakan diksi-diksi yang cenderung agitatif. Hampir di semua segmen Pak Prabowo menyerang Pak Jokowi, kecuali di segmen penutup dan segmen awal saat membahas ideologi Pancasila yang mana mereka saling melempar pujian dan apresiasi.

Yang menarik dari cara memikat dukungan para pemilih yang masih bimbang dan pemilih yang belum menentukan pilihan oleh Jokowi dan Prabowo di panggung debat ialah benang merah pesan-pesan kunci (key messages). Pak Jokowi selaku petahana berulang-ulang menyampaikan cerita sukses (succsess story) pemerintahanya, sedangkan Pak Prabowo lebih ke pendekatan supremasi.

_____________________________________


Wrote by Fadhlillah Hidayat
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me




Saya adalah seorang yang biasa, namun ingin mengekspresikan diri saya melalui media, yang salah satunya adalah blog ini. So, be happy and enjoy it!

-Fadhlillah Hidayat

LinkedIn Profile


M. Nurfadhlillah Hidayat

My Running Journey

Blog Archive

  • ►  2021 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ▼  2019 (13)
    • ▼  November (1)
      • Tadinya Mau Ngereview Drakor, Tapi...
    • ►  Oktober (7)
      • Detektif Fadly, Pahlawan Dibalik Pencurian Motor d...
      • Polsek Bekasi Amankan Pelaku Pencurian Sepeda Motor
      • Pedas Mantap Hadir di Berani Festival 2019
      • Pendekatan Teori SOLAADS Frank Jefkins dalam Conto...
      • Kotak Pandora dari (G)I-DLE, Suatu Konsep Nightmar...
      • Kecolongan oleh Rasa Gugup, Ambyarr!
      • Keluh Kesah Mencari Tempat Magang
    • ►  September (1)
      • KKN di Desa Pabangbon - a story of KKN ICONIC 60
    • ►  April (3)
      • Politik dan Pemilu 2019 #4: Alasan Kurangnya Parti...
      • Politik dan Pemilu 2019 #3: Arah Harapan Ustadz Ab...
      • Politik dan Pemilu 2019 #2: Review Debat Capres-Ca...
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (1)
  • ►  2017 (11)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)

Let's Support GFriend!

Copyright Fadhlillah Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Populernya tuh Disini!

  • [SOSIAL] Jalan “Pintas” Bikin SIM Cepat di Depok
  • [HUMAN INTEREST] Mengenal Enterpreneur dan Motivator Muda, Rendy Prihartono
  • [AGAMA] Talkshow Qurani bersama Muzammil Hasballah
  • Pendekatan Teori SOLAADS Frank Jefkins dalam Contoh Siaran Pers
  • Kotak Pandora dari (G)I-DLE, Suatu Konsep Nightmare yang Memukau
  • Pedas Mantap Hadir di Berani Festival 2019
  • PBAK 2016, Day 1 : Pra-PBAK / Gladi Resik
  • PBAK 2016 SERIES
  • Goodbye, My Obsession!
  • Perpisahan yang Akan Kembali Bertemu

Pengikut

PENGUNJUNG FADLY

Categories

Story Kuliah Opini Cinta Narasi Politik UAS Jurnalistik Pemilu 2019 UTS Teknik Publikasi Hati Mimpi Inspirasi Korean Zone Magang Owner PBAK 2016 Profile Straight News (G)I-DLE COMFEST 2017 Drama Review Feature News ICONIC Indonesia Interview KKN My Target Pabangbon Queendom

Panutanqu

  • kaoskakibau.com - by ron
    So... Where Am I Now?
    9 bulan yang lalu
  • 68ACA :: a modest thought
    Main Jungkat-Jungkit
    6 tahun yang lalu

Copyright © 2015 fadlytheworld. Designed by OddThemes