• Home
  • Content
    • #Jikalau
    • Tugas Kuliah
      • UAS Jurnalistik
      • UTS Teknik Publikasi
    • Politik
      • Pemilu 2019
    • Internship Stories
    • Korean Zone
      • K-Pop Review
      • K-Drama Review
  • Travel
    • KKN di Desa Pabangbon
  • Find Me
    • Facebook
    • Twitter
    • Instagram
    • Email
  • Ask Me!
  • Owner
fadlytheworld



Masih ada sekitar 1,5 hingga 2 tahun untuk Ahmad Heryawan menyelesaikan tugas dan amanahnya sebagai Pemimpin Jawa Barat. Dan waktu yang sama pun berlaku untuk salah satu Walikota yang akan maju menjadi JABAR 1, yaitu Kang Emil, sapaan umum untuk Pak Ridwan Kamil. Dan saat ini sudah mulai tercium aroma politik di Jawa Barat disaat pesta demokrasi di Ibukota masih berlangsung.

Seperti berita yang akhir-akhir ini sedang ramai, bahwa Parpol NasDem melangkah lebih awal dan mencuri start untuk mengusung calon gubernur (cagub) Jawa Barat, yaitu Ridwan Kamil. Pada hari minggu (19/3/2017), NasDem resmi mendeklarasikan dukungannya bagi Kang Emil untuk maju sebagai cagub Jabar 2018-2023. Masih telalu pagi untuk Kang Emil memperhatikan ini, karena masih ada yang harus lebih diperhatikan, yaitu Bandung yang belum terselesaikan, yang harus difokuskan olehnya. Namun tidak perlu dikhawatirkan, karena Kang Emil sudah mengatakan bahwa Janji Bandung belum beres dan masih ada 2 tahun anggaran 2017 dan 2018 untuk dibelanjakan mengejar sisa mimpi (yang belum terlaksana).

Diketahui bahwa dalam Deklarasi tersebut, dalam pidatonya Surya Paloh selaku pimpinan NasDem memberi syarat untuk Kang Emil, yaitu :
  1. Menjadikan Jawa Barat sebagai Benteng Pancasila
  2. Tidak bergabung dengan parpol manapun, bahkan berlaku untuk NasDem
  3. Mensukseskan pencalonan Jokowi dalam Pilpres 2019
Dengan peristiwa deklarasi dari NasDem untuk Kang Emil tersebut, banyak para ahli politik dan pengamat menganalisis maksud dan tujuan NasDem ini. Motif ini terlihat dari syarat yang diungkapkan oleh Surya Paloh, yaitu

Pertama, makna “benteng Pancasila” adalah semangat kemajemukan dan pluralisme. Dua kata tersebut identik dengan makna “kebhinnekaan” yang selalu dipakai untuk menyudutkan kekuatan politik islam, memojokkan umat Islam yang berpegang teguh memperjuangkan nilai-nilai Islam dalam berpolitik. Kita tahu bahwa NasDem adalah parpol barisan Nasionalis Sekuler, dan NasDem ingin memastikan bahwa kang Emil satu barisan dengan ideologi mereka sekaligus menjauhkannya dengan kekuatan politik Islam. NasDem juga ingin menjadikan pak RK sebagai “model/sales” bagi ideologi nasionalis sekuler yang dianutnya.

Kedua, RK tidak akan bergabung dengan parpol manapun. Selama ini pun beliau bekerja untuk rakyat, dan bukan kader parpol manapun, selalu bisa membuktikan bisa bekerja profesional tanpa campur tangan partai. Bahkan ketika pilwalkot Bandung 2013 diusung oleh Gerindra & PKS dan terpilih, beliau tetap bekerja dan fokus dengan pekerjaannya tanpa ada konflik kepentingan dengan partai-partai pengusungnya. Jadi maksud dari syarat kedua ini hanya untuk mendapat simpati public bahwa RK akan bekerja tanpa tekanan partai, padahal memang sejatinya beliau selalu seperti itu.

Ketiga, NasDem akan kembali mendukung Jokowi pada pilpres 2019, secara tidak langsung meminta kang Emil sebagai “model pencari suara”. Kalau seseorang sudah mengidolakan tokoh yang diidolakannya, pasti apapun akan dilakukan untuk mendukungnya. Itulah motif untuk mendapat dukungan memilih Jokowi dari ajakan kang Emil, gambarannya seperti itu. Hal itu sangat penting karena di Jawa Barat, dukungan untuk Jokowi tak terlalu kuat, di pilpres 2014 lalu suara Jokowi kalah jauh dibanding Prabowo, dan saat ini kang Emil disetting untuk mengubah itu.

Keempat, dengan memberikannya dukungan kepada kang Emil, diharapkan sosok yang sarat prestasi dan elektabilitas tinggi itu bisa mendongkrak nama NasDem di Jawa Barat.

Dengan deklarasi dini, NasDem ingin dianggap sebagai partai yang paling berjasa bagi Ridwan Kamil untuk mensukseskan dan menang di pilgub Jabar 2018 nanti. Dan keuntungan bagi NasDem dan partai lain yang nantinya akan berkoalisi sangatlah besar untuk mendapatkan posisi dan memperkuat Jokowi menduduki nusantara untuk yang kedua kalinya.






Referensi :
http://portal-islam.id/2017/03/mengupas-motif-partai-nasdem-calonkan.html
http://twitter.com/roninpribumi
Wrote by Fadhlillah Hidayat (@mnfh_fadly)


Gimana sih rasanya melakukan hal yang berbeda dari hal yang biasanya kita lakuin sehari-hari? Mungkin agak aneh kalau pertama kali mah, sama dengan yang hari ini saya lakukan, melakukan hal yang beda adalah suatu tantangan tersendiri untuk kita. Dan setelah dicoba, wah gilaaaakkk, jadi special banget kejadiannya, seneng banget deh hari ini ☺️

Jadi mau cerita nih…. Boleh kan? 😁
Ya bolehlah, ini tulisan gua, blog gua..
Yaaa suka-suka gua lah 😜

“DASAR EGOIS! GA MIKIRIN GIMANA NANTI PEMBACANYA”
Lah emang ada yang mau baca nih blog? 😅

Anyway, cerita ini mengenang satu tahun peristiwa ini terjadi, dan tulisan ini ditulis sudah semenjak beberapa waktu setelah moment ini ada. Kejadian ini terjadi pada 15 Maret 2016, dan sekarang saya posting pada tanggal 15 Maret 2017. Happy 1st Anniversary my First Different Day with You ❤️️

Oiya, jadi gini.. sehari sebelum hari itu terjadi, saya dan dia (seorang wanita spesial) emang sudah membahas untuk keesokan harinya, rencananya kita mau pulang bareng dan mau makan, walaupun saat pembahasan, kita masih belum tau mau makan dimana nya, kebetulan hari itu (15/03) lagi hari-harinya UAMBN, jadi pulangnya siang, sekitar jam 12-an lah pokoknya. Nah setelah ujian selesai, kita belum ngebahas lagi gimana-gimananya buat hari itu, jadi terlihat seperti miscommunication gitu deh.. itu adalah suatu permasalahan, jadi kita gak tau pasti jadi atau enggaknya. Ditambah lagi, temen saya yang emang udah biasa sering pulang bareng saya, dan akhir-akhir itu dia jarang pulang bareng sama saya, sekalinya mau minta bareng, waktunya gak tepat, karena rencananya kan emang mau pulang bareng seseorang yang tadi udah dibahas. Pas dia ngajakin bareng, jelas-jelas langsung saya tolak, walaupun ngerasa gak enak sama tuh orang.

Setelah ujian selesai, anak-anak yang lain ada yang udah langsung memilih untuk pulang, ada juga yang masih nongkrong dulu di depan ruangan.. disitu ada dia dan temen-temennya yang lagi ngobrol-ngobrol gituu, ada juga temennya dia yang biasa sering pulang bareng dia naik transportasi umum, dan disitu juga ada temen saya yang biasa sering pulang bareng saya, yang baru aja saya tolak ajakan barengnya, temen saya itu masih berada di ruangan, yang saya pikir masih nungguin saya untuk pulang bareng, dia masih berharap bareng sama saya wkwkwk..

Dan gara-gara miscommunication itu, jadi akhirnya dia pulang sama temennya, menaiki miniarta bernama “UTAMA”. Dan yaudah, saya pulang sendiri, dan dia naik transportasi umum, berarti gagal deehh..


Tapi… rencana ini belum gagal sepenuhnya. Karena saya telah melakukan hal yang berbeda, yang cukup membuat jantung ini berdetak dengan cepat dan tidak beraturan (oke ini alay banget gua). Di perjalanan saya berpikir untuk nekat, yaitu ikut naik miniarta tersebut, biar duduk di sebelah dia. Dan hal itu saya lakukan.. saya lebih dulu mengendarai motor saya, jauh meninggalkan miniarta yang dia naiki, dan saya menuju ke Giant BBM untuk menyimpan motor saya, karena saya berpikir bahwa memarkirkan motor saya disitu adalah hal yang paling aman, dan karena saya ingin naik miniarta yang juga dia naiki. 
Wrote by Fadhlillah Hidayat
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda

About Me




Saya adalah seorang yang biasa, namun ingin mengekspresikan diri saya melalui media, yang salah satunya adalah blog ini. So, be happy and enjoy it!

-Fadhlillah Hidayat

LinkedIn Profile


M. Nurfadhlillah Hidayat

My Running Journey

Blog Archive

  • ►  2021 (1)
    • ►  April (1)
  • ►  2020 (1)
    • ►  Oktober (1)
  • ►  2019 (13)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (7)
    • ►  September (1)
    • ►  April (3)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2018 (2)
    • ►  November (1)
    • ►  Juni (1)
  • ▼  2017 (11)
    • ►  Desember (4)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ▼  Maret (2)
      • [POLITIK] RIDWAN KAMIL, NASDEM, dan PILGUB JABAR 2018
      • First Different Day with You
    • ►  Februari (1)
  • ►  2016 (11)
    • ►  Desember (1)
    • ►  September (5)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (3)

Let's Support GFriend!

Copyright Fadhlillah Hidayat. Diberdayakan oleh Blogger.

Populernya tuh Disini!

  • [SOSIAL] Jalan “Pintas” Bikin SIM Cepat di Depok
  • [HUMAN INTEREST] Mengenal Enterpreneur dan Motivator Muda, Rendy Prihartono
  • [AGAMA] Talkshow Qurani bersama Muzammil Hasballah
  • Pendekatan Teori SOLAADS Frank Jefkins dalam Contoh Siaran Pers
  • Kotak Pandora dari (G)I-DLE, Suatu Konsep Nightmare yang Memukau
  • Pedas Mantap Hadir di Berani Festival 2019
  • PBAK 2016, Day 1 : Pra-PBAK / Gladi Resik
  • PBAK 2016 SERIES
  • Goodbye, My Obsession!
  • Perpisahan yang Akan Kembali Bertemu

Pengikut

PENGUNJUNG FADLY

Categories

Story Kuliah Opini Cinta Narasi Politik UAS Jurnalistik Pemilu 2019 UTS Teknik Publikasi Hati Mimpi Inspirasi Korean Zone Magang Owner PBAK 2016 Profile Straight News (G)I-DLE COMFEST 2017 Drama Review Feature News ICONIC Indonesia Interview KKN My Target Pabangbon Queendom

Panutanqu

  • kaoskakibau.com - by ron
    So... Where Am I Now?
    9 bulan yang lalu
  • 68ACA :: a modest thought
    Main Jungkat-Jungkit
    6 tahun yang lalu

Copyright © 2015 fadlytheworld. Designed by OddThemes